Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id

Ada 1 kilometer ondol membentang di Festival Kuduran Budaya

4 Agustus 2020

Singkong adalah tanaman khas nusantara yang banyak tumbuh di lahan pertanian warga. Di beberapa daerah orang menyebut tanaman umbi-umbian ini dengan nama yang berbeda. Di wilayah Banyumas Raya ada yang menyebut pohung, budin, atau boled Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan ketela pohon atau ubikayu. Sedangkan dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut cassava. Hingga kini masih banyak petani yang mempertahankan tanaman pangan yang satu ini.

Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan antara lain, singkong mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah dan cuaca. Di lahan tandus yang tak ramah bagi tanaman lain, singkong mampu bertahan bahkan bisa tumbuh subur. Alasan lainnya, singkong dapat diolah sebagai makanan pokok seperti tiwul atau gaplek. Bahan baku ini juga dapat diolah menjadi bermacam jenis makanan tradisional misalnya getuk, keripik, lanting, tape dan sebagainya. Di Banjarnegara singkong banyak diolah menjadi ondol, makanan yang menjadi ciri khas daerah ini.  Ondol sendiri adalah cemilan berbentuk bulat seperti bakso dengan  rasa gurih yang kental.

Di Kecamatan Wanayasa, ondol mempunyai kedudukan tersendiri sebagai bagian dari kebudayaan lokal. Warga tak segan mengekpresikan ondol sebagai ikon kearifan lokal dalam sebuah festival yang diberi nama “Kuduran Budaya” dengan agenda puncaknya yaitu Bentang ondol sewu meter atau seribu meter. Menurut Mas Nono selaku penggagas acara ini, kata kuduran diambil dari kosakata setempat yang bermakna semangat gotong-royong. Sebab kegiatan diselenggarakan secara gotong-ronyong dari, oleh dan untuk warga masyarakat.

Pesta rakyat yang mengangkat budaya dan kreatifitas masyarakat Desa Wanayasa ini digagas oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam Seniman Muda Wanayasa (Sendawa). Rangkaian kegiatannya lumayan banyak sebagai berikut :

  • Sedekah Nada Siswa. Adalah kegiatan yang menampilkan kreatifitas para pelajar dalam bidang seni dan budaya dari sekolah-sekolah di Wanayasa dan sekitarnya.
  • Gema Rebana. Adalah kegiatan yang menampilkan group-group rebana dari kalangan masyarakat/pelajar di Wanayasa dan sekitarnya.
  • Mlampah Samparan. Adalah sebuah perjalanan berjalan kaki dengan menapaktilasi wilayah-wilayah di mana laki-laki gondrong Pembedhul singkong pingitan pernah diperkenankan untuk memboyong sebagian singkong yang dimilikinya untuk dijadikan bahan utama pembuatan ondol pada prosesi Bentang Ondol Sewu Meter.
  • Prosesi Bedhul Singkong. Prosesi pembedhulan singkong akan dilakukan di Desa Dawuhan. Prosesi Pembedhulan singkong akan diawali dengan permohonan izin dari Sang Panembung kepada si empunya wilayah di mana singkong itu berada, agar diperkenankan memboyong sebagian singkong yang dimilikinya untuk dijadikan bahan utama pembuatan ondol. Setelah terjadi kesepakatan pembedhulan singkong akan dilakukan oleh  17 laki-laki gondrong sebagai simbol 17 desa di Kecamatan Wanayasa yang dibantu oleh 45 Sang Pengiring. Selesai pembedhulan singkong akan dibersihkan di sungai Naraban Desa Dawuhan. Rangkaian prosesi ini akan diakhiri dengan penyerahterimaan singkong kepada Sang Peracik, yaitu sepuluh Ondolers atau koki terbaik, untuk diolah agar keesokan harinya dapat dijadikan ondol yang siap dinikmati bersama warga masyarakat setelah sebelumnya secara beramai-ramai dibentangkan oleh Sang Pembentang.
  • Sedekah Nada. Rencananya kegiatan ini akan dimeriahkan dengan lampion impian.
  • Bentang Ondol Sewu Meter. Setelah melalui beberapa tahapan dari mengupas kulit, memarut, memeras, hingga membubui, adonan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil dan siap untuk digoreng menjadi ondol. Ondol yang telah matang kemudian disindik dengan bilah bambu setiap sindik berisi 17 butir ondol. Setelah dibungkus plastik sindikan ondol siap dibentangkan.
  • Makan Tumpeng Nasi Jagung. Usai melakukan pembentangan ondol, warga bersama-sama Sang Pembentang makan tumpeng nasi jagung sebagai wujud ungkapan syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian Kuduran Budaya.

 

Ondol Makanan Ikonik

Ondol bagi warga Wanayasa adalah makanan ikonik, dibuat dari singkong yang dilahirkan alam di bumi Wanayasa bersama tanah, air, udara, dan sejarah warganya. Singkong di mata warga Desa Wanayasa merupakan lambang kemakmuran dan keguyuban yang selalu dirayakan melalui Kuduran Budaya. Kuduran Budaya menjadi ajang ikrar kebanggaan warga terhadap jati diri sebagai ‘wong ndesa’.

Proses pembuatan ondol diolah dengan apik dalam rangkaian yang diawali Mlampah Samparan. Ini adalah prosesi berjalan kaki menuju kebun singkong. 17 pria berambut gondrong ditemani 45 warga sebagai pengiring memilih dan mencabut singkong terbaik dari kebun warga dalam ritual Bedhul Singkong. Tidak asal cabut, mereka pun menyampaikan ‘tetembung’ atau permohonan dengan hormat.

Singkong tersebut selanjutnya diolah menjadi ondol oleh 10 koki ondol terbaik di Wanayasa. Selanjutnya, ondol-ondol tersebut dimasukan dan dibentangkan sejarak 1000 meter dalam Bentang Ondhol.

Agar lebih menarik dan ramai sebagai sebuah pesta rakyat, ondol tersebut ditusukkan ke lidi mirip sate. Lalu disambung-sambung dengan dibungkus plastik. Setelah disambung lalu digantung di sebuah tempat yang sudah disiapkan membentang sepanjang jalan raya kecamatan dengan panjang sewu meter atau 1 kilometer.

Sebanyak seribu ondol dibentangkan di lapangan untuk dinikmati bersama warga dan pengunjung yang hadir. Tradisi bentang ondol dilakukan sebagai ciri khas dari budaya yang dimiliki dan harus dilestarikan.

Ada pesan khusus yang ingin disampaikan lewat Bentang Ondol ini. Pertama bentuk ondol yang bulat melambangkan tekad warga dalam meraih cita.  Kedua, pengikatan puluhan ribu ondol yang dibentang sebagai simbol semangat persatuan dan kegotongroyongan warga masyarakat. Harapannya, semangat kegotongroyongan ini akan senantiasa terjaga erat. Ketiga, pesan yang tak kalah penting adalah ajakan memperkuat ketahanan pangan lokal. Singkong sebagai bahan dasar ondol merupakan sumber karbohidrat yang dapat digunakan sebagai peganti pakan pokok. Demikian juga dengan jagung. Lewat acara makan bersama tumpeng nasi jagung, terselip pesan agar makanan pokok itu tidak harus dari beras. Singkong dan jagung merupakan alternatif pengganti beras.

Jika di setiap daerah dapat memanfaatkan potensi pangan lokal, maka ketahanan pangan suatu daerah akan terjaga. Dampaknya pemeritah tidak lagi disibukkan dengan urusan impor bahan pangan pokok yang berjilid-jilid. Pesan itu juga tersirat dalam senandung lagu yang dinyanyikan oleh Grup musik Rengeng-rengeng (Sendawa). Berikut potongan syairnya:.”Ora kudu mangan sega beras, sega jagung iya enak, …”  (Tidak harus makan nasi beras, nasi jagung juga enak)

Di samping acara inti berupa bentang ondol, selalu ada tampilan baru setiap gelaran Kuduran Budaya. Pada Kuduran Budaya X kali ini, panitia menyuguhkan format yang berbeda dari tahun sebelumnya. Acara yang biasa digelar di Kebun Budaya Kinara-kinari dialihkan ke lapangan Sepakbola Kertiyasa. Acara pendukungnya juga cukup banyak dan bervarisasi. Salah satunya Wedding Vaganza yang menyedot perhatian pengunjung.

Mau kesini? cek peta berikut ini ya……..

* Penulis : Bella Rista Safera. Foto : arifmoko Editor : @kominfobanjarnegara

Artikel Terkait

KOMENTAR

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *