Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id
Pecel Legendaris dari Blimbing Lengkong, Absolutely Recommended Lho

Pecel Legendaris dari Blimbing Lengkong, Absolutely Recommended Lho

Annyeonghaseyo

Allo guys apa kabar? Plis jangan dijawab “kimi ninyiiii” , bosen banget nih dengernyaa lingkungan sekitar sindrom kamu nanya semuaaa. Hmmm say hai dulu kali ya sama sobat Kulinerista biar keliatan akrab gitu…..

Kira kira sobat kulinerista sama kaya aku ga nih suka jajan, kalau jawabannya iya pembahasan kali ini pasti bakal menarik banget buat kalian, tapi kalau jawabannya engga bisa jadi ini adalah awal kalian suka sama makanan. Makanan apa ya yang akan kita bahas? Ayo kita hitung mundur Bersama

1 2 3 ….

Taraaaa jadi kali ini kita akan bahas mengenai makanan tradisional pecel. Hayoo sobat kulinerista tau ga nih apa itu pecel? Jadi gini nih sob pecel adalah makanan yang berbahan dasar sayuran yang sudah direbus lalu diperas airnya, nah setelah diperas airnya sayuran tadi dihidangkan di sebuah wadah yang cukup besar, baru nanti pada saat akan dihidangkan  di tempatkan p ada piring cantik dengan sambel kacang yang disiram diatasnya. Sebenarnya pecel itu ga beda jauh loh sama salad, iyaa bener makanan kekinian itu loh yang sekarang lagi digandrungi sama anak anak milenial, bahkan dijadikan salah satu makanan diet karena bahan utamanya yaitu sayuran yang menyehatkan dan rendah lemak. Eh sini deh aku kasih tau pecel punya nama yang super kece loh, apaya kira kira nama nya? Namanya adalah Salad Vegetables with Peanut Sauce. Wah kayanya kalau kita jualan pecel terus pakai spanduk dengan Bahasa Inggris tadi bakal lebih narik perhatian anak muda ya.  Bagus tuh bisa jadi salah satu trik jitu buat naikin eksistensi pecel.

Wah ternyata Sebagai salah satu makanan tradisional pecel memiliki makna atau filosofi tertentu loh, yuk kita bahas beberapa . Yang pertama adalah makna kebebasan, jadi gini sob semisal kita akan membuat pecel kita ga akan dibatasi untuk mencampur sayuran dan bumbu yang akan digunakan selama bahannya aman, malah dengan sayuran atau bumbu yang berbeda dapat membuat keunikan tersendiri dan menjadi pembeda antara pecel disatu daerah dengan daerah lainnnya. Yang kedua adalah makna keragaman, Sobat tentunya dapat melihat sendiri bukan bahwa sayuran yang digunakan dalam membuat pecel itu beragam, hal serupa juga berlaku pada pembuatan bumbu. Dan yang terakhir adalah makna kesederhanaan, makna ini tercermin dari bahan yang digunakan yaitu mudah didapat, murah dan pengolahannya mudah.

Ternyata kalau kita cari tau secara lebih dalam mengenai makanan tradisional yang satu ini terdapat banyak fakta menarik ya. Nah setelah tau pengertian dan makna pecel secara umum, yuk kita bahas lebih spesifik lagi.

Jadi gini nih sobat kulinerista di Dukuh Blimbing, Desa Lengkong, Kecamatan Rakit itu terdapat pecel yang bisa dikatakan legendaris, loh kok bisa sih? Bisa dong apa si yang mustahil di dunia ini, pecel ini sudah berdiri selama 30 tahun lebih, wah…. Usia aku aja setengah dari bisnis pecel ini hihihi…. Kalian tau ga nih apa yang bikin bisnis ini tetap eksis dari dulu sampai sekarang meskipun zaman terus berkembang? Ah dari pada kelamaan aku kasih tau aja deh, pecel ini bisa tetap eksis karena memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan pecel didaerah lain. Coba tebak deh keunikan apa yang terdapat di pecel satu ini sehingga tetap eksis hingga saat ini bahkan dikalangan generasi muda. Wah ada ga nih yang menebak keunikannya terdapat dibagian bumbu, kalau ada selamat ya sob jawaban kalian benar sekali.

Jadi gini bumbu pecel yang pada umumnya ditumbuk hingga halus tidak berlaku untuk pecel Blimbing. Penjual pecel ini memberi ciri khas tersendiri pada produknya, Kacang yang digunakan untuk bumbu tidak ditumbuk sampai halus malahan sengaja dibuat agar masih banyak kacang yang potongannya besar besar. “yah susah dong makannya” no no engga gitu dong sob kosepnya, meskipun kacang ini tidak ditumbuk sampai halus tapi itu ga bikin makannya susah malahan ada sensasi tersendiri saat makan. Aduh jadi ngiler nih pengin makan pecel sekarang juga. Jujur aja ya aku jadi penasaran deh gimana sih proses pembuatan pecel unik yang satu ini.

Adakah yang penasaran juga kaya aku? Kalau ada yuk cari tau sama sama.

Buat menjawab rasa penasaran aku tentang proses pembuatannya, beberapa waktu yang lalu akhirnya aku Bersama beberapa temanku melakukan wawancara dengan narasumber. Dan kalian tau ini pecahh bangettt narasumber dengan amat baik hati memberi tau proses pembuatan bumbu, cara pengolahan sayur, bahkan cara membuat gorengan pendamping pecel kayak bakwan, dan yapp kita dikasih tau itu semua secara Cuma Cuma, mulia sekali beliau ini.

Sekarang yuk simak hasil wawancaranya

Bahan Bumbu Pecel

Yang pertama dan paling utama yaitu kacang tentunya, eitsss jangan asal pilih kacang ya guys cari deh tuh kacang dengan kualitas yang baik, ya memang si harganya lumayan mahal tapi inget ada harga ada barang. Tentunya buat bikin bumbu yang bombastis perlu bahan pendamping dong seperti gula jawa, Bawang putih, bawang merah, cabai.

Bahan sayuran

Guys seperti yang udah kita bahas tadi nih kalau salah satu filosofi pecel adalah kebebasan dan keberagaman. Jadi sayuran apapun boleh dicampurkan saat membuat pecel, contoh aja nih untuk pecel Blimbing sendiri menggunakan kenci, bayam, kecombrang, dan timun.

Bahan gorengan

Untuk menu pendamping sih sebenernya ga ada Batasan guys tapi untuk pecel Blimbing andalannya yaitu bakwan. Katanya si alesannya selain karena paling banyak diminati, bahan yang digunakan itu mudah di dapat, aman dikonsumsi dan pastinya murce dong hehehe. Bahan yang digunakan itu antara teriguu eh tapi jangan asal pilih terigu ya karena kualitas nya itu berpengaruh loh ke tekstur adonan, sedangkan untuk sayuran yang dibutuhkan antara lain wortel, kobis, kecambah, bawang putih, garam, lada, sedikit penyedap rasa, dan air.

Sip deh kalau semua bahan udah terkumpul, lets go kita mulai masak memasaknya.

Kita mulai dari yang paling rumit dan lama dulu proses pembuatannya ya, bener banget apa lagi kalau bukan buat bumbunya.

  1. Ayak kacang yang sudah dibeli, dan pilihlah yang besar besar untuk diolah ke tahap berikutnya.
  2. Proses yang ngebuat kacang ini tahan lama dan punya rasa gurih tersendiri itu adalah sebelum ditumbuk, kacang ini di sangrai terlebih dahulu biar minyaknya keluar secara alami.
  3. Setelah di sangria masukan kacang kedalam alu untuk ditumbuk, ingat ya sob jangan terlalu halus, dan sisihkan ke tempat lain.
  4. Nah kalau urusan kacang kacangan udah beres kita lanjut ke gula jawa, masukan gula ke alu dan tumbuk sampai halus, iyapp bener langsung ya guys ga perlu disisir atau dipotong kecil kecil dulu, katanya sih biar lebih mantep.
  5. Setelah ditumbuk halus campurkan gula dengan air dan bumbu bumbu lainnya lalu aduk rata, baru deh kalau semua udah kecampur masukin kacang tadi plung plung.
  6. Setelah jadi pindahkan ke tempat lain.

Perbumbuan beres kita lanjut ke sayuran

  1. Pilih sayur yang masih segar dan tidak terlalu banyak bagian yang cacat.
  2. Bersihkan sayuran dengan teliti dibawah air mengalir.
  3. Tiriskan menggunakan wadah yang berlubang dibagian bawah agar air dapat keluar.
  4. Setelah bersih rebus lah sayuran di air yang sudah mendidih, lalu angkat saat sayuran sudah cukup lunak.
  5. Tiriskan lagi semua sayuran yang telah direbus lalu potong, tapi ingat guys jangan terlalu kecil.

Tahap kedua selesai, kita lanjut ke bagian terakhir yaitu membuat menu pendamping pecel biar tambah oishi gitu…

  1. Langkah pertama cuci bersih sayuran yang telah dibeli dan tirisan sebentar lalu potong kecil kecil, ingat ya guys kecil dan buat setipis mungkin, setelah dipotong pindahkan kewadah lain.
  2. Tumbuk atau blender merica sampai halus lalu campurkan dengan garam.
  3. Tuangkan tepung terigu ke wadah besar lalu campur dengan bumbu serta penyedap.
  4. Setelah tercampur tuangkan air sedikit demi sedikit sampai tingkat kekentalan yang diinginkan.
  5. Setelah adonan jadi masukan sayuran yang sudah di potong tadi. Aduk hingga tercampur rata.
  6. Cetak adonan dengan bentuk bulat di minyak yang sudah panas.
  7. Sebelum penyajian tirisan dulu dipiring yang dialasi tisu makanan agar tidak terlalu berminyak.

Gimana guys mudah kan membuat pecel? Atau kalau mau lebih mudah juga bisa caranya ya beli hehehehe… kalian tim mana nih buat atau beli? Apapun itu kita sebagai generasi milenial punya kewajiban untuk terus melestarikan budaya peninggalan nenek moyang loh, jadi ayo kita ambil peran kita untuk ikut serta melestarikan budaya daerah salah satunya dengan ikut mempromosikan, mempelajari cara membuat dan juga melakukan inovasi agar makanan ini tetap ekzizz….jadi jangan lupa yauntuk mencoba pecel saat sobat kulinerista berkunjung ke Banjarnegara, untuk masyarakat yang berdomisili di Banjarnegara juga jangan mau kalah dong, sebagai warga asli tempat dimana pecel popular tentunya harus mencintai dan ikut mempromosikannya. Ga harus ke blimbing kok karena di Banjarnegara ini semua pecel memiliki keunikan nya sendiri, dijamin deh kalian ga bakal nyesel

Lest taste typical Banjarnegara food ...

** Text dan Foto by  @mitaata_ dari SMA N 1 Wanadadi

Roxie dan Sengwong, sepasang gajah Sumatera di Serulingmas Zoo

Roxie dan Sengwong, sepasang gajah Sumatera di Serulingmas Zoo

Sepasang Gajah Sumatra datang ke Serulingmas Banjarnegara Interactive Zoo gaes…..  Dua ekor gajah ini, datang ke Serulingmas Zoo atau yang dulu biasa disebut dengan TRMS Serulingmas, dari Mason Elephant Park and Lodge Bali. dengan pengawalan ketat dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, BKSDA Jawa Tengah, dan Kepolisian Resor Banjarnegara pada, Sabtu (29/10/2022) kemarin.

Menurut Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Serulingmas Banjarnegara Interactive Zoo, Lulut Yekti Adi,  kedatangan Roxie (betina) dan Sengwong (jantan) ini harapannya menambah daya tarik wisatawan jelang libur tahun baru dan  menambah edukasi bagi wisatawan yang datang ke Serulingmas Zoo Banjarnegara.

“Kami sudah berupaya mendatangkan dua ekor gajah ini sejak empat tahun lalu. Sebelum kedatangan gajah ini, kami juga sudah mempersiapkan berbagai keperluan lainnya, termasuk kandang dan kebersihan serta keamanannya,” katanya.

Dua gajah Sumatera yang masih berusia 30 tahun itu diharapkan bisa menjadi titik awal upaya koservasi gajah di TRMS Serulingmas lho. Sebab dengan usia yang tergolong masih muda (untuk umur gajah), sangat besar kemungkinannya untuk berkembang-biak.

Dalam 14 hari pertama, kedua ekor gajah tersebut dikarantina dan akan cek kesehatan untuk mengantisipasi kemungkinan terjangkitnya virus dan bakteri selama perjalanan Bali-Banjarnegara. Pengecekan kesehatan, juga oleh TRMS Serulingmas, dengan pendampingan dan pemantauan BKSDA Jawa Tengah.

Sebagai informasi, sebenarnya TRMS Banjarnegara dulu pernah memiliki koleksi satwa besar tersebut, namun sempat terjadi dua peristiwa yang membuat hewan bertelinga lebar ini mati. Peristiwa pertama terjadi pada 2010, seekor gajah mati keracunan. Kemudian pada 28 November 2012 seekor gajah sisanya mati tersengat arus listrik saat renovasi kandang gajah.

Penasaran ? yuh ke Serulingmas Banjarnegara Interactive Zoo

 Penulis : Ngatmow al azis Foto : Bagas Wiam

Baritan, satu lagi budaya asli Dieng Kulon

Baritan, satu lagi budaya asli Dieng Kulon

Pernah mendengar istilah Baritan gaes ?
Belum ?

Wajar…….. kaum milenial……..

eh nggak ding, kaum kolonial juga ada yang belum kok hehhe………

Baritan adalah sebuah tradisi dalam budaya masyarakat Jawa yang sudah dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun baru Islam. Tradisi baritan ini adalah sebuah upacara adat yang tidak lain adalah  berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan peristiwa alam. Tentunya hal ini diawali dari kepercayaan masyarakat terkait ritual tradisi baritan yang dilakukan untuk mencegah bencana alam yang mungkin akan terjadi. Dan biasanya tradisi ini sangat erat dengan peristiwa sejarah yang dialami warga setempat secara berkala.

Sebuah pendapat berbeda dari para pelaku baritan (yang bermata pencaharian sebagai petani) mengatakan bahwa baritan berasal dari kata ‘buBAR ngaRIT  SelameTan‘, yang artinya adalah acara syukuran setelah selesai menyabit rumput/padi. namun ada sebagian masyarakat yang lain yang mengkonfirmasi bahwa bahkan kata itu tidak lagi diketahui asalnya. Masyarakat hanya tahu bahwa nama kegiatan ritual itu adalah Baritan, tanpa mempertanyakan lebih lanjut.
Seperti di daerah Indramayu, konon Baritan itu ada hubungannya dengan kata dalam bahasa Sunda “buritan” yang berarti waktu sehabis maghrib, mengacu pada waktu pelaksanaan, sedangkan di Jawa Tengah sebelah barat, baritan itu berasal dari kata ‘barit ‘ yang berarti tikus. Hal ini berhubungan dengan maksud kegiatan ritual masyarakat agraris untuk menghindarkan diri dari serangan tikus.
Di sisi lain,  secara religi bagi masyarakat  yang melaksanakannya, tradisi Baritan adalah apresiasi rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan karunia Nya. Harapannya, dengan upacara ini secara tidak langsung masyarakat juga diingatkan agar intropeksi diri atas tingkah lakunya juga menjaga kepedulian atas sesamanya. Jadi sebenernya manusia disuruh menjaga kodratnya kembali sebagai makhluk sosial. gitu sodara sodara……

Meskipun tradisi baritan ini sudah mulai ditinggalkan, namun di pulau Jawa sendiri masih ada beberapa daerah yang secara rutin menggelarnya, bahkan secara besar besaran. Pemalang, Blitar, Banyuwangi, Wonosobo dan Dieng adalah beberapa contohnya.

Wait……Dieng ?

Yes……. Bener sekali.
Ada tradisi ini di Dieng dan sekitarnya sodara sodara……
Ga pernah denger? Sama …… hehehe……
Mbah Sumanto
Tradisi Baritan di Dieng memang tidak terekspos seperti halnya tradisi pemotongan rambut gembel yang memang sudah dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah festival berskala nasional, namun tradisi ini masih tetap terjaga dan digelar oleh sebagian masyarakat Dieng (khususnya Desa Dieng Kulon) setiap tahun pada bulan Sura (penanggalan Jawa). Penjaga tradisi ini adalah 7 orang sesepuh desa yang dipimpin oleh mbah Sumanto (menggantikan Mbah Naryono yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu).
Menurut Mbah Manto, panggilan akrab beliau, Baritan di Dieng Kulon berasal dari kata “mbubarake Peri lan Setan” (membubarkan peri dan setan). Dan sesuai dengan makna kepanjangannya itu Baritan di Dieng lebih menjadi sebuah upacara / ritual yang ditujukan agar masyarakat desa Dieng Kulon terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.
Begitu kira kira gaes……
Lanjut ya ……..
Upacara Baritan Dieng terdiri dari berbagai rangkaian acara yang dipimpin langsung oleh para sesepuh desa. Rangakaian Baritan meliputi ziarah makam leluhur, kirab, penyembelihan wedhus kendhit (kambing putih dengan bulu berwarna hitam yang melingkar sempurna di bagian badan, atau sebaliknya) berjenis kelamin jantan.
Ada beberapa hal yang menarik dari pelaksanaan tradisi Baritan di Dieng ini ;
  • Penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dan kepala tepat di titik tengah desa oleh sesepuh desa, dan anehnya apabila digali lagi tulang belulang kaki dan kepala pada proses baritan tahun sebelumnya ga pernah ada……. padahal secara logika harusnya masih kan……….
  • Dilakukan semacam doa bersama dan grebeg makanan di 7 perempatan desa Dieng Kulon
  • Selamatan berupa acara makan bersama yang dilakukan oleh semua warga desa bertempat di kediaman salah seorang sesepuh desa dengan menu utama daging wedhus kendhit yang sudah disembelih pada pagi harinya. Dan sebagai informasi, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir……… wow kan…….
  • Disediakan 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan.
Mulai tertarik ?
Oke………
Jadi ceritanya begini, satu persatu ya………..
Prosesi baritan diawali pada malam hari dimana 8 orang sesepuh desa Dieng Kulon melakukan ritual lampahan. Lampahan dimaksud adalah melakukan perjalan mengelilingi desa tepat pada sepertiga malam terakhir (kurang lebih dimulai jam 2 pagi…… ga terbayang deh dinginnya kaya apa…….)
Kemudian paginya, mereka bertujuh akan melakukan penyembelihan seekor kambing khusus yang disebut sebagai wedhus kendhit tadi. Kepala dan ke empat kakinya akan ditanam di 4 penjuru desa sebagai simbol benteng luar desa, kemudian kepala ditanam tepat di titik tengah desa sebagai simbol kewibaan desa. Dagingnya dikelola oleh kaum perempuan untuk dimasak dan diolah sedemikian rupa menjadi masakan yang akan disajikan dan dibagikan kepada seluruh masyarakat desa Dieng Kulon.
Proses penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dilakukan secara bersama sama oleh 7 orang sesepuh desa Dieng Kulon dengan diiringi oleh warga dan berbagai macam kesenian desa seperti Barongsai, embeg dan jepin. Titik startnya adalah rumah yang akan digunakan sebagai tempat dilaksanakannya selamatan. 
 
Sebelum perjalanan dimulai, akan dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama (Islam) dengan dilanjutkan pemukulan gong sebagai tanda start. Dalam proses jalan, warga masyarakat yang mengikuti akan melantunkan kidung yang berisi puji pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dan itu dilakukan sampai ke titik titik penanaman
Sesampainya di perempatan, rombongan akan berhenti untuk menggelar doa bersama lagi. Doa dilakukan bersama warga yang berkerumun mengelilingi meja berisi makanan (biasanya tumpeng dan aneka perlengkapannya), kopi teh serta jajan pasar. Doa yang dipimpin oleh seorang pemuka agama ini diakhiri dengan Grebegan panganan alias rebutan makanan oleh warga yang ada di sekitarnya. Bahkan saking asiknya, warga sampai tidak sadar bahwa rombongan sudah beranjak meninggalkan lokasi itu menuju ke perempatan selanjutnya hingga sampai pada titik penanaman kaki dan kepala wedhus kendhit selesai.
Rame ? jelas……
Singkat cerita, setelah semua prosesi dilakukan maka acara terakhir adalah kembali berkumpul di titik start untuk melakukan selamatan. Seperti tradisi baritan di tempat lain, selamatan di Dieng Kulon juga diselenggarakan dengan mengumpulkan seluruh warga desa untuk melakukan doa bersama kemudian makan bersama dan terakhir adalah pagelaran kesenian desa selama sau hari penuh.
Istimewanya gaes, makanan yang disajikan adalah 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan. dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir. Ga percaya ? buktikan sendiri deh……
Tertarik ?
Tunggu bulan Sura pada penanggalan Jawa, nanti kita kesana bareng …… oke ?

 

D’qiano, Infinity Pool Paling Wahh! di Dieng

D’qiano, Infinity Pool Paling Wahh! di Dieng

Pernah kebayang ngga? Bangun tidur, buka jendela terus disambut sama pemandangan yang luar biasa kaya foto diatas? Itu Cuma ada di Dieng! Disini  kamu juga bisa berendam dengan  air hangat di kolam yang super VVIP! lokasinya berada di 5 Km barat daya dari komplek candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara.

D’Qiano Hot Spring Waterpark, Taman wisata air panas yang menjadi salah satu destinasi favorit pengunjung ketika berlibur ke dataran tinggi Dieng. Pemandian air panas disini dikemas berbeda dengan waterpark pada umumnya, disini kamu bisa menikmati pemandangan pegunungan dengan view yang tak biasa sembari seluncur di waterboom! Tubuh yang dingin dan lelah setelah perjalan jauh seketika lenyap saat kamu masuk ke kolam.

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 20.000 kamu bisa berenang dan bermain air sepuasnya. Kolam D’Qiano sangat aman untuk anak kecil maupun orang dewasa. Terdapat beberapa pilihan kolam dengan tingkat kepanasan air dan kedalaman kolam yang berbeda, bisa memilih sesuai keinginan kamu.

Waktu paling pas untuk mandi disini yaitu pagi atau sore hari, kalo siang kurang rekomended soalnya D’Qiano tempatnya terbuka, otomatis kalo siang panas terik lalu mandi bisa lemas kepanasan.

Sumber air panas disini Alami, bukan dipanaskan manual. Lokasi D’Qiano bersebalahan dengan kawah Sileri, wilayah ini merupakan salah satu prospek geothermal yang dimanfaatkan PT. Geodipa Energy untuk membangkitkan listrik 60Mw. Jadi, sebelum pintu masuk ke kawasan D’Qiano dan kawah Sileri kamu akan melihat sumur panas bumi dengan kode WellPad 7 di kanan jalan jika dari dari arah jalan raya Dieng.

Nahh, dari air panas alami ini kandungan belerangnya cukup tinggi. Belerang atau Sulfur biasa dipakai sebagai bahan baku kosmetik. Kebayang kan? Gimana rasanya mandi di kolam belerang yang pasti bermanfaat bagi kulit. Kulit jadi sehat dan gatal-gatal karena jamur langsung luntur! Tapi tenang sirkulasi air panas disini sangat baik sehingga tidak perlu khawatir dengan air yang kotor.

Fasilitas disini sangat lengkap. Parkiran sangat luas, bisa menampung pulahan Bus. Masjid dan kantin juga tersedia disini dan yang paling keren di D’Qiano juga terdapat homestay! Penginapan disini sangat nyaman dan rekomended jika kamu ingin menginap di Dieng dengan pengalaman yang mengesankan.

Penginapan ini berlantai 2,  satu kamar single bed dilantai bawah dan Large Bed di lantai 2. Kalo dihitung dari jumlah Bed-nya, penginapan ini hanya untuk 3 orang tapi kalo kamu datang sekeluarga lebih dari 8 orang juga muat kok, tinggal minta ekstra Bed dan bisa juga memanfaatkan ruang tamu yang luas di lantai 1.

Harganya sekitar 800 ribuan permalam, kalo ekstra Bed nambah 100 ribu per/bed. Terjangkaulah, apalagi datangnya ramai-ramai bisa makin asik! Sepadan dengan fasilitas dan pengalaman menginap dengan view yang luar biasa. Dari balkon penginapan ini kamu bisa melihat bentangan luas bukit-bukit yang tertutup kabut di pagi atau sore hari, dan yang penting kamu bisa berendam dengan air panas kapanpun!.

Tertarik untuk datang kesini? persiapkan liburanmu ke Dieng. Bulan Mei hingga Agustus waktu yang pas untuk datang kesini karena pada bulan-bulan itu masuk musim kemarau dan kamu bisa merasakan dinginnya Dieng yang bikin embun jadi beku!

 

Artikel ini telah tayang di northbackpacker.com – Penulis dan Foto by C/L/X

Dieng Membeku Lagi ! Nih tips kalau mau menikmati bun upas disana

Dieng Membeku Lagi ! Nih tips kalau mau menikmati bun upas disana

Dieng membeku lagi !!

Yes, beberapa hari terakhir aplikasi stasiun cuaca dieng menunjukkan grafik penurunan suhu yang terus menerus. Sehingga puncaknya fenomena embun es ini terjadi Kamis (30/6/2022) kemarin, dengan berpusat di dalam kompleks Candi Arjuna, Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.

Embun es atau warga Dieng menyebut bun upas yang bisa membuat daun layu hingga tanaman mati kali ini lebih tebal dibandingkan yang sebelumnya karena suhu mencapai minus 1,25 derajat Celcius ! dan merupakan suhu paling rendah di tahun 2022.

Dingin ? Jelasss……

Menurut seorang kawan yang menjadi pecinta sejati Dataran Tinggi Dieng (hingga dijuluki sebagai Demang Dieng), Aryadi Darwanto, sebenarnya tanda-tanda kemunculan embun es di Dieng bisa diamati sebelumnya lho. Bagini caranya :

  1. Cuaca pagi sampai sore hari pada hari sebelumnya cerah. Dan cenderung “hangat” untuk ukuran cuaca di Dieng.
  2. Pada malam harinya tidak ada angin, langit cerah. Jika ada angin suhu akan naik dan embun es tidak akan terbentuk.
  3. Embun es bisa terbentuk kapan saja (terutama malam hari) jika pada sekitar jam 23.00 WIB sudah menunjukkan suhu udara 4’C dan terus turun, berarti proses pembentukan embun es sudah dimulai.
  4. Liat aplikasi Cuaca Dieng untuk memantau perkembangan suhu dan cuaca Dieng.
  5. Embun es dapat di lihat sampai pukul 07.30 di sekitar Candi Arjuna, Candi Setyaki Dharmasala dan lapangan di sekitar candi.

Foto : Aryadi Darwanto

Lebih lanjut, kalau kita menggali informasi dari sudut ilmu meteorologi, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau pada Juli -September. Dan beberapa faktor yang mungkin berperan terbentuknya embun beku yang didahului suhu dingin ekstrem di Dieng antara lain adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian.

 

Bagi masyarakat Dieng sendiri, embun upas atau bun upas adalah embun racun. Fenomena ini ketika suhu menjadi sejuk, lantas turunlah embun-embun yang dingin lagi beku sehingga efeknya membuat tanaman mati tersiakan. Kerusakan tersebut tidak dapat dihindari jika embun beku tiba lebih awal sebelum masa panen.

 

Tapi, bagi wisatawan dan para pemburu konten, turunnya bun upas ini adalah sesuatu yang sangat spesial. tentu saja karena sangat jarang terjadi di negeri khatulistiwa yang cenderung beriklim hangat ini. Jadi, meskipun sangat dingin, masih saja kondisi ini diserbu ribuan pendatang yang hanya pengen mengabadikan “salju” dan kemudian memamerkannya di media sosial mereka……
Bikin macet tentu saja … DAMN !!!

By the way,  kalau kalian mau berkunjung ke Dieng pas dingin dinginya kayak gini, berikut sedikit tips untuk persiapan ya :
1. Pakai baju yang tebal dan jangan lupa jaket.
saat fenomena embun upas terjadi, suhu udara cenderung lebih dingin, oleh karena itu sangat disarankan kalian memakai baju tebal, seperti jaket.  Jaket tidak harus memakai jaket gunung, tapi yang penting jangan jaket wool atau jeans.  Demi mengurangi rasa dingin saat melihat embun upas, kalian juga bisa memakai sarung tangan, kaus kaki, dan topi kupluk (yang menutup sampai telinga) agar hangat.
2. Makan dan minum hidangan yang hangat.
Memakan hidangan yang hangat (terutama karbohidrat) saat suhu udara berada di posisi minus bisa membuat tubuh terasa lebih baik. Cocok juga untuk mengganti sumber panas yang hilang karena udara dingin, sukur membawa sendiri bekal yang hangat.  Jikapun tak sempat membawa makanan hangat, bisa juga membelinya di warung yang ada di dekat tempat melihat embun upas. Tapi hati hati lho, makanan dan minuman disana akan terasa jauh lebih dingin daripada suhu aslinya, sehingga kalau terburu buru dan tanpa strategi mulut dan lidah akan terbakar dan baru terasa ketika kita sudah turun gunung nantinya.
3. Datang dini hari
Karena proses pembekuan sering terjadi mulai dini hari, maka ada baiknya kalau datang ke Dieng (selain yang menginap lho …) sekitar jam 3 – 5 pagi. Alasannya adalah agar sempat “ketemu” bun upas itu. Sebab biasanya “salju” tidak akan bertahan lama. Ketika matahari sudah mulai terbit dan bersinar terang pada pukul 05.30 WIB, butiran es yang muncul akan segera mencair dan hilang.
4. Datang di bulan Juli – September
Pada bulan Juli – September yang masih masuk dalam musim kemarau,  sebab pada musim kemarau semua hal yang dibutuhkan untuk terbentuknya bun upas terjadi. So, agendakan ke Dieng untuk tahun depan ya
5. Terus Bergerak 
Udara dingin dan cuaca ekstrem di alam bebas seperti yang terjadi di Dieng memang terasa membuat tubuh sulit bergerak – atau setidaknya membuat tubuh malas untuk bergerak banyak. Padahal hal ini adalah salah satu jalan menuju ke hipotermia. Oleh karena itu, untuk menghindari penyakit serta gejala mematikan itu – pastikan kalian tetap bergerak atau bahkan memperbanyak gerak tubuh dan mencoba membiasakan diri dengan udara yang sedingin itu.
6. Pantau terus perkembangan suhu Dieng dengan teknologi
Semakin berkembangnya teknologi juga sangat membantu kita untuk memantau perkembangan suhu dan kondisi cuaca di Dieng. Salah satunya dengan menggunakan Aplikasi Cuaca Dieng yang sudah tersedia di PlayStore (untuk Android)

* Penulis : Thomas Fatah  Foto n editor: Ngatmow Prawierow