Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id

Baritan, satu lagi budaya asli Dieng Kulon

12 Oktober 2022

Pernah mendengar istilah Baritan gaes ?
Belum ?

Wajar…….. kaum milenial……..

eh nggak ding, kaum kolonial juga ada yang belum kok hehhe………

Baritan adalah sebuah tradisi dalam budaya masyarakat Jawa yang sudah dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun baru Islam. Tradisi baritan ini adalah sebuah upacara adat yang tidak lain adalah  berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan peristiwa alam. Tentunya hal ini diawali dari kepercayaan masyarakat terkait ritual tradisi baritan yang dilakukan untuk mencegah bencana alam yang mungkin akan terjadi. Dan biasanya tradisi ini sangat erat dengan peristiwa sejarah yang dialami warga setempat secara berkala.

Sebuah pendapat berbeda dari para pelaku baritan (yang bermata pencaharian sebagai petani) mengatakan bahwa baritan berasal dari kata ‘buBAR ngaRIT  SelameTan‘, yang artinya adalah acara syukuran setelah selesai menyabit rumput/padi. namun ada sebagian masyarakat yang lain yang mengkonfirmasi bahwa bahkan kata itu tidak lagi diketahui asalnya. Masyarakat hanya tahu bahwa nama kegiatan ritual itu adalah Baritan, tanpa mempertanyakan lebih lanjut.
Seperti di daerah Indramayu, konon Baritan itu ada hubungannya dengan kata dalam bahasa Sunda “buritan” yang berarti waktu sehabis maghrib, mengacu pada waktu pelaksanaan, sedangkan di Jawa Tengah sebelah barat, baritan itu berasal dari kata ‘barit ‘ yang berarti tikus. Hal ini berhubungan dengan maksud kegiatan ritual masyarakat agraris untuk menghindarkan diri dari serangan tikus.
Di sisi lain,  secara religi bagi masyarakat  yang melaksanakannya, tradisi Baritan adalah apresiasi rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan karunia Nya. Harapannya, dengan upacara ini secara tidak langsung masyarakat juga diingatkan agar intropeksi diri atas tingkah lakunya juga menjaga kepedulian atas sesamanya. Jadi sebenernya manusia disuruh menjaga kodratnya kembali sebagai makhluk sosial. gitu sodara sodara……

Meskipun tradisi baritan ini sudah mulai ditinggalkan, namun di pulau Jawa sendiri masih ada beberapa daerah yang secara rutin menggelarnya, bahkan secara besar besaran. Pemalang, Blitar, Banyuwangi, Wonosobo dan Dieng adalah beberapa contohnya.

Wait……Dieng ?

Yes……. Bener sekali.
Ada tradisi ini di Dieng dan sekitarnya sodara sodara……
Ga pernah denger? Sama …… hehehe……
Mbah Sumanto
Tradisi Baritan di Dieng memang tidak terekspos seperti halnya tradisi pemotongan rambut gembel yang memang sudah dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah festival berskala nasional, namun tradisi ini masih tetap terjaga dan digelar oleh sebagian masyarakat Dieng (khususnya Desa Dieng Kulon) setiap tahun pada bulan Sura (penanggalan Jawa). Penjaga tradisi ini adalah 7 orang sesepuh desa yang dipimpin oleh mbah Sumanto (menggantikan Mbah Naryono yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu).
Menurut Mbah Manto, panggilan akrab beliau, Baritan di Dieng Kulon berasal dari kata “mbubarake Peri lan Setan” (membubarkan peri dan setan). Dan sesuai dengan makna kepanjangannya itu Baritan di Dieng lebih menjadi sebuah upacara / ritual yang ditujukan agar masyarakat desa Dieng Kulon terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.
Begitu kira kira gaes……
Lanjut ya ……..
Upacara Baritan Dieng terdiri dari berbagai rangkaian acara yang dipimpin langsung oleh para sesepuh desa. Rangakaian Baritan meliputi ziarah makam leluhur, kirab, penyembelihan wedhus kendhit (kambing putih dengan bulu berwarna hitam yang melingkar sempurna di bagian badan, atau sebaliknya) berjenis kelamin jantan.
Ada beberapa hal yang menarik dari pelaksanaan tradisi Baritan di Dieng ini ;
  • Penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dan kepala tepat di titik tengah desa oleh sesepuh desa, dan anehnya apabila digali lagi tulang belulang kaki dan kepala pada proses baritan tahun sebelumnya ga pernah ada……. padahal secara logika harusnya masih kan……….
  • Dilakukan semacam doa bersama dan grebeg makanan di 7 perempatan desa Dieng Kulon
  • Selamatan berupa acara makan bersama yang dilakukan oleh semua warga desa bertempat di kediaman salah seorang sesepuh desa dengan menu utama daging wedhus kendhit yang sudah disembelih pada pagi harinya. Dan sebagai informasi, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir……… wow kan…….
  • Disediakan 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan.
Mulai tertarik ?
Oke………
Jadi ceritanya begini, satu persatu ya………..
Prosesi baritan diawali pada malam hari dimana 8 orang sesepuh desa Dieng Kulon melakukan ritual lampahan. Lampahan dimaksud adalah melakukan perjalan mengelilingi desa tepat pada sepertiga malam terakhir (kurang lebih dimulai jam 2 pagi…… ga terbayang deh dinginnya kaya apa…….)
Kemudian paginya, mereka bertujuh akan melakukan penyembelihan seekor kambing khusus yang disebut sebagai wedhus kendhit tadi. Kepala dan ke empat kakinya akan ditanam di 4 penjuru desa sebagai simbol benteng luar desa, kemudian kepala ditanam tepat di titik tengah desa sebagai simbol kewibaan desa. Dagingnya dikelola oleh kaum perempuan untuk dimasak dan diolah sedemikian rupa menjadi masakan yang akan disajikan dan dibagikan kepada seluruh masyarakat desa Dieng Kulon.
Proses penanaman kaki wedhus kendhit di 4 penjuru desa dilakukan secara bersama sama oleh 7 orang sesepuh desa Dieng Kulon dengan diiringi oleh warga dan berbagai macam kesenian desa seperti Barongsai, embeg dan jepin. Titik startnya adalah rumah yang akan digunakan sebagai tempat dilaksanakannya selamatan. 
 
Sebelum perjalanan dimulai, akan dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama (Islam) dengan dilanjutkan pemukulan gong sebagai tanda start. Dalam proses jalan, warga masyarakat yang mengikuti akan melantunkan kidung yang berisi puji pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dan itu dilakukan sampai ke titik titik penanaman
Sesampainya di perempatan, rombongan akan berhenti untuk menggelar doa bersama lagi. Doa dilakukan bersama warga yang berkerumun mengelilingi meja berisi makanan (biasanya tumpeng dan aneka perlengkapannya), kopi teh serta jajan pasar. Doa yang dipimpin oleh seorang pemuka agama ini diakhiri dengan Grebegan panganan alias rebutan makanan oleh warga yang ada di sekitarnya. Bahkan saking asiknya, warga sampai tidak sadar bahwa rombongan sudah beranjak meninggalkan lokasi itu menuju ke perempatan selanjutnya hingga sampai pada titik penanaman kaki dan kepala wedhus kendhit selesai.
Rame ? jelas……
Singkat cerita, setelah semua prosesi dilakukan maka acara terakhir adalah kembali berkumpul di titik start untuk melakukan selamatan. Seperti tradisi baritan di tempat lain, selamatan di Dieng Kulon juga diselenggarakan dengan mengumpulkan seluruh warga desa untuk melakukan doa bersama kemudian makan bersama dan terakhir adalah pagelaran kesenian desa selama sau hari penuh.
Istimewanya gaes, makanan yang disajikan adalah 7 buah tumpeng dengan 7 warna yang berbeda, lengkap dengan segala lauk pauknya sebagai pelengkap aneka makanan olahan daging wedhus kendhit pada acara selamatan. dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, pada acara selamatan ini daging satu ekor kambing tersebut tidak habis dibagi untuk hampir 300 orang yang hadir. Ga percaya ? buktikan sendiri deh……
Tertarik ?
Tunggu bulan Sura pada penanggalan Jawa, nanti kita kesana bareng …… oke ?

 

[supsystic-social-sharing id='1']

Artikel Terkait

KOMENTAR

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *