Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id

Mbok Brendung, boneka cantik penuh magis pemanggil hujan

9 September 2023

Pernah terbayang ga ada sebuah boneka yang bisa “mengendalikan” beberapa orang dewasa sekaligus sampai mereka bergulingan di tanah sambil makan kembang ?

Keren kan ?
Pastinya………


Itulah sedikit gambaran tentang kesenian brendung sodara sodara. Pernah dengar ?
Kesenian Brendung merupakan salah satu kesenian yang bisa kita jumpai di Desa Bedana, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Sebenernya sih kalau kita googling, ada sumber yang menyebutkan bahwa kesenian ini berasal dari daerah Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang yang masih dipertahankan oleh entitas masyarakat wong kaso (suku kaso-yang dikenal sebagai suku samin-nya Kabupaten Pemalang#katagoogle tapi kita nggak akan membahas sampai ke situ kok…..


Oke ?
skip …..


Lalu, apa sih Kesenian Brendung itu ?


Menurut masyarakat yang masih melestarikannya (khususnya masyarakat di wilayah utara Jawa Tengah), baik di Desa Bedana Kecamatan Kalibening maupun di wilayah Kabupaten Pemalang dan Pekalongan, semua sepakat bahwa asal kata “brendung” adalah dari kata sebutan untuk bidadari. Sebab memang kesenian ini melibatkan semacam boneka yang cantik dan memiliki sedikit kemiripan dengan Jelangkung, hanya saja terdapat perbedaan dari bahan pembuatnya dan cara memainkannya.


Boneka yang disebut oleh masyarakat desa Bedana sebagai “mbok brendung” ini bagian kepalanya terbuat dari siwur (gayung dari tempurung kelapa), sedangkan tubuhnya terbuat dari bubu (alat penangkap ikan dari anyaman bambu) yang kemudian dirias sedemikian rupa, dipakaikan baju sehingga menyerupai wanita cantik, lalu dilengkapi dengan sesajen, dupa, serta diberikan asesoris bunga-bunga seperti kembang kamboja dan kembang telon (bunga tiga jenis yaitu mawar, melati dan kantil) yang diikat dengan angking.



Dalam melakukan kesenian brendung ini dibutuhkan lebih dari 8 orang laki laki dan 4 atau 6 wanita diperbantukan sebagai pelantun (penyanyi) sambil membunyikan musik sederhana dari lesung dan  beberapa alat dapur yang dipukul-pukul membentuk suatu irama tertentu, sedangkan pemimpin ritual ini disebut sebagai “mlandang“. (Kata mlandang ini dimungkinkan adalah serapan dari kata dalang:ndalang)


Tugas mlandang memainkan boneka bidadari (brendung) tersebut sekaligus sebagai pemeran utama dalam pementasan lakonnya, sedangkan para laki laki lainnya bertugas memegang tali dari 4 sisi supaya boneka bidadari atau brendung tidak lepas terbang.


terbang ?
yes…….


Pada awalnya boneka itu akan bergerak dalam tempo lambat, lalu semakin lama semakin kuat. Seperti layaknya seorang penari yang mabuk kegirangan karena senandung syair dan mantra yang memujinya.
kesenian mbok brendung bedana kalibening


Lambat laun, dengan semakin bersemangatnya lagu lagu pantun/wangsalan dialunkan dan animo pertunjukan yang semakin semarak, boneka tersebut seolah semakin “menggila” bergerak menari-nari sendiri, keempat sampur yang dipegang oleh 4 orang laki laki dari berbagai sisi itupun terasa semakin berat dan liar. Pada fase ini, diyakini boneka brendung itu sudah berhasil dimasuki roh halus arwah Nyai Brendung yang apabila tidak dipegangi maka akan berontak dan terbang ke atas langit kemudian berubah menjadi pageblug atau hantu gentayangan.


Hebatnya lagi, para laki laki pemegang sampur atau selendang itu lama lama akan mengalami trans alias kesurupan. Mereka kemudian bergulingan di tanah sambil mengerang seperti macan dan hewan lainnya, kemudian bergerak kesana kemari mencari “makanan” berupa kembang, air dan bahkan beling……


Gitu……..

Keren sekaligus ngeri, itu yang terjadi ketika kita menonton pertunjukan kesenian ini. Apalagi dengan adanya alunan mantra yang menjadikan aura di sekitarnya semakin mistis hehehe ….
Kata masyarakat Bedana, sebenarnya ada perbedaan “rapalan” yang dilantunkan dengan aslinya, sebab sudah mengalami akulturasi budaya dengan kearifan lokal setempat.


Meskipun begitu adanya perbedaan penyebutan atau penamaan dan perbedaan mantra dan tata cara pelaksanaan ritual di beberapa daerah yang masih mempertahankannya tersebut, inti dan tujuan dari digelarnya kesenian Brendung ini tetap sama, yaitu ritual pemanggilan hujan yang dilaksanakan oleh masyarakat agraris ketika mereka mengalami kekeringan atau musim kemarau panjang.



Semakin penasaran ?
Jelas……



 

Berdasarkan hasil penelusuran yang bisa dipercaya, Kesenian Brendung ini sudah teregister menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2013 dengan Nomor Registrasi 2013003586, Domain Seni Pertunjukan Provinsi Jawa Tengah. (warisanbudaya.kemdikbud)


Dimana kesenian brendung ini bisa ditemukan di Desa Sarwodadi Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang, namun ada juga di wilayah Desa Bedana Kecamatan Kalibening Kabupaten Banjarnegara, di wilayah Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya, terutama di daerah-daerah selatan Pantai Utara Jawa Tengah yang berbasis pegunungan.


 

Sayang sekarang ini kesenian Brendung sudah sangat jarang dijumpai, bahkan sangat sulit ditemukan. Faktor tergerus perkembangan jaman yang semakin modern serta tidak ada regenerasi penerus kesenian ini sangat jelas menjadi alasan, bahkan tidak adanya tempat di hati masyarakat karena faktor agama juga menjadikan popularitas kesenian ini semakin memprihatinkan.



***(Artikel ini juga sudah tayang di zisbox.net) *** Naskah by Ngatmow al Azis (dari berbagai sumber), Foto by KPFB (Toha Trend dan Mas Diran)

[supsystic-social-sharing id='1']

Artikel Terkait

KOMENTAR

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *