Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id

Menata Pesona Bukit Mandala

27 Juli 2020

Kabut bergegas menuruni punggung bukit Mandala Giri dan sejumput kemudian tampak menyelimuti pepohonan pinus, batu besar dan gua purba. Ketika Senin (20/7) jajaran Forkopincam, Asper, tokoh adat dan Kepala Desa Karanggondang secara bergantian meletakkan batu pondasi pembangunan fasilitas destinasi wisata alam Bukit Mandala Giri.
.
Di punggung bukit Mandala, tepatnya di petak Perhutani No. 47 kelak akan terhampar taman bunga dan taman buah nan mempesona. Di hamparan hutan seluas 10 hektar itu, taman-taman dan batu-batu besar purba yang membentuk gua akan dihubungkan dengan jalan alami. Juga, gazebo dan selfie deck untuk beristirahat. Sebagai informasi, Lokasi  ini hanya berjarak 6 km arah barat Kantor Kecamatan Karangkobar. Jalurnya pun mudah, melewati Desa Karangkobar, Ambal, Jlegong dan Karanggondang. Infrastruktur jalan yang baik menghantar mobil dan bus mikro menjangkau destinasi hingga titik nol lokasi Wisata.
.
Bukit Mandala bukanlah nama wisata baru. Keberadaannya sudah dikenal luas, terutama dalam memori generasi muda-mudi di wilayah Banjarnegara utara di era 80-an. Mereka sudah menjadikannya destinasi favorit yang menantang dengan beramai-ramai piknik hiking atau jalan kaki mendaki bukit diakhir pekan.
.
Konon gua purba yang tersebar merupakan situs tua yang dihubungkan dengan keberadaan Kyai Bramasari. Tokoh penyebar agama Islam ini dalam cerita rakyat setempat dikenal pula dengan sebutan Eyang Gayoran, dimana menjadi sesepuh dan cikal bakal pendiri Desa Karanggondang.
.
Masyarakat lokal memberinya nama alam, binatang atau figur wayang pada gua-gua purba yang eksotik. Misalnya : goa kebondanu, goa lawa, goa macan, goa angin dan (paling atas) goa panembahan. Disebut Goa Angin karena di goa itu, pengunjung dapat merasakan embusan angin kencang dari salah ujung goa.
.
Sebagian Goa tersembunyi dan sebagian lagi tampak terlihat dari luar. Bila siang hari pengunjung mampu menyusuri punggung bukit maka dari ketinggian puncak Goa Panembahan akan tampak venue kota Karangkobar dan bendungan Pangsar Sudirman (Mrica). Sedangkan bila dilihat saat malam hari, lampu-lampu kota akan tampak mirip bintang-bintang dilangit.
.
Petak No. 47 ini awalnya merupakan hutan produksi penghasil getah pinus milik Perhutani. Setelah dikerjasamakan sebagai rintisan destinasi wisata alam, Perum Perhutani mempercayakan kepada Bumdes Maju Bersama dan LMDH Mandala Giri. Pola profit sharing-nya 60:40.
.
Sementara itu, Pemerintah Desa memberikan suntikan modal awal dari Dana desa (DD). Dana inilah yang mula-mula digunakan untuk membangun rumah tiket, jalan dan area parkir, fasilitas mushola dan jaringan listrik.
.
Selanjutnya, tahun depan DD beserta CSR sebuah korporasi akan melengkapi fasilitas air minum, aula rapat, lapangan kemah dan gazebo-gazebo di beberapa pinggir gua batu maupun taman.
.
Ketua BUMDES Samin mentargetkan, penataan sarpras wisata, taman-taman dan gazebo hingga awal tahun depan sudah cukup memadai, sehingga rintisan destinasi wisata alam pegunungan ini sudah menarik dan bisa dikunjungi wisatawan.

*Teks & photo: Sagiyo Arsadiwirya
“>

Artikel Terkait

KOMENTAR

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *