Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id

Ritual Pemanggil Hujan Dengan Adu Pukul Pria Dewasa di Ujungan Gumelem

10 Agustus 2020

Musim kemarau panjang menjadi awal lahirnya ritual tradisional pemanggil hujan sebagian besar warga di Desa Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Ritual tersebut menjadi tradisi yang turun temurun dari nenek moyang selama ratusan tahun lalu yang masih tetap dijaga kelestariannya sampai sekarang ini.

Berbicara tentang potensi wisata Kabupaten Banjarnegara memang tidak ada habisnya yaa.. banyak sekali yang bisa dijual dan dipromosikan demi melestarikan budaya dan tradisi warga Banjarnegara agar lebih dikenal banyak orang. Satu lagi potensi pariwisata yang digeluti masyarakat Desa Gumelem adalah Ujungan Gumelem ini.

Ujungan Gumelem dikenal sebagai ritual pemanggil hujan, kesannya seperti yang ada di film dan sinetron televisi yaa agak mistis dengernya.. Ujungan Gumelem mempunyai acara festivalnya sendiri, masyarakat Banjarnegara biasa menyebutnya dengan Ujungan Fest (Ujungan Festival) dan merupakan rangkaian acara Festival tahunan di Kabupaten Banjarnegara. Para pemuda milenial yang ambisius untuk menjual potensi pariwisatanya, mengemas budaya ujungan menjadi tradisi yang menarik dengan tanpa meninggalkan nilai estetika budaya ujungan tersebut. Dikemasnya secara apik ujungan kedalam suatu event festival mewakili kesadaran masyarakat dalam upaya pelestarian budaya ujungan agar tidak tergerus oleh zaman.

Tradisi Ujungan Gumelem dikemas dalam sebuah atraksi seni budaya yang menurut sebagian orang yang belum pernah melihatnya mungkin akan berkata kalau festival ini “gila” , pasalnya para pemain atraksi ini diharuskan untuk memukul lawan mainnya dengan sebilah batang rotan keras, yang katanya guna mempercepat datangnya hujan para pemain Ujungan ini harus memperbanyak pukulan pada bagian kaki kepada lawan hingga terluka dan berdarah… hmmm ngeri banget sob..  pemain yang berani ikut bermain akan dipersenjatai dengan batang rotannya dan diharuskan mengganti kostum dan memakai perlengkapan untuk keamanan dirinya. Maka dari itu tradisi ini hanya boleh diikuti oleh pria dewasa yang mempunyai nyali besar sebagai seorang petarung, berani coba? Ritual pemanggil hujan dilakukan sebab masa ini (kemarau) petani sangat membutuhkan air untuk mengairi sawahnya, kalau kekeringan otomatis petani merugi dan gagal panen karena sawah kekurangan air dan otomatis juga kalian tidak bisa makan nasi karena beras langka. Hayo looo…

Banyak juga kolaborasi pelengkap acara ritual dengan menggabungkan antara seni musik, tari dan bela diri seperti kuda lumping, kenthongan dan lainnya yang tentu saja selalu menjunjung tinggi sportivitas antar pemain. Jadi jangan beranggapan kalau event ini berjalan dengan sembrono alias ngawur yah, ada wasit yang akan mengatur jalannya ritual ini sob…… jadi tetap pada koridornya yaa..

Event ini menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan lhoo, setiap pelaksanaan festival Ujungan tidak pernah sepi pengunjung, animo masyarakat selalu meluber mungkin karena ngeri yaa jadi banyak yang penasaran hehee.. untuk tahun ini rasa-rasanya Festival Ujungan Gumelem masih menjadi khayalan yaa, sebab adanya pandemi Covid 19 seperti sekarang ini membuat banyak sektor pariwisata budaya termasuknya Festival Ujungan Gumelem menjadi mandeg.

Sedih yaa ☹ …………………. Mari Berdo’a yuk semoga pandemi ini segera berakhir dan event ini akan kembali dilaksanakan supaya sobat mbolang bisa wisata edukasi sekalian eksplore Banjarnegara tercinta …….

Salam Mbolang.. ………

 

* Penulis : Dinda Zhalia Kristi Foto : Ajru Ramadhan, Bowo_capung Editor : @kominfobanjarnegara

Artikel Terkait

Batik Gumelem Banjarnegara

Batik Gumelem Banjarnegara

Berbincang soal batik memang sudah tidak asing lagi kita dengar.. banyak sekali batik-batik legend sebagai maskot dan...

KOMENTAR

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *