Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id
Yang enak dari Banjarnegara ya Buntil dan Dawet Ayu

Yang enak dari Banjarnegara ya Buntil dan Dawet Ayu

Kamu  traveler yang sedang  berkunjung di Banjarnegara? Belum lengkap rasanya jika belum menikmati segarnya dawet ayu khas banjarnegara.

Minuman yang dibuat menggunakan tepung beras dan beras ketan ini memliki rasa dawet yang sedikit berbeda dari dawet pada umumnya. Dawet yang berbentuk mie dengan panjang 2-4 cm ini berstekstur kenyal dan wangi, disajikan dengan gula aren serta santan menjadi ciri khas dari dawet ayu.

Bukan hanya rasa saja yang memiliki khas. Gerobaknya pun memiliki  bentuk khas tersendiri. Bertenggernya dua tokoh pewayangan, yaitu semar dan petruk. Inilah yang menjadi keunikan sekaligus ciri khas dari dawet ayu dari Banjarnegara ini.

Harganya ? cuma dengan lima ribu perak kamu sudah bisa menikmati segarnya es dawet ayu yang rasanya manis dan juga gurih lho…….

Jika dawet ayu dapat menghilangkan dahaga maka ada makanan khas lain yang bisa melengkapi perjalananmu di Banjarnegara. Setelah kamu berkeliling menikmati keindahan kota Banjarnegara kamu dapat menikmati sajian buntil daun cekla cekli yang lembut juga gurih. Makanan berbahan kelapa parut yang dibungkus daun talas lalu disiram dengan kuah pedas yang terbuat dari santan. Biasanya buntil dinikmati dengan dengan nasi hangat, ikan teri dan petai yang kenikmatannya tidak bisa dilupakan saat kamu sudah kembali ke kota asalmu.

Meskipun namanya terkesan agak norak ternyata makanan ini juga terkenal sampai luar negri. konon katanya di daerah Laut tengah sana seperti Yunani dan Turki dikenal pula makanan semacam Buntil dengan Pembungkus daun anggur muda dan diisi dengan nasi. Tapi kamu tidak perlu pergi jauh jauh ke luar negri untuk menikmati lezatnya Buntil, di Banjarnegara kamu dapat menemukannya di warung-warung makan.

Buntil ini dibedakan menjadi tiga macam tergantung dari daun apa yang digunakan saat membungkusnya. Pertama, disebut dengan Buntil talas apabila dibungkus dengan daun talas (senthe/lumbu). Yang kedua, disebut Buntil singkong apabila daun yang digunakan  untuk membungkusnya menggunakan daun singkong. Dan yang ketiga, disebut Buntil Gandhul apabila membungkusnya menggunakan daun pepaya. Pada buntil jenis Bothok, daun pembungkus pada buntil juga dapat turut dikonsumsi.

 

*Penulis : Gia Taratia Foto : Wawan Kardjo Editor : @kominfobanjarnegara