Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id
Warisan Budaya Negeri Di Atas Awan ? Ya Candi Dieng

Warisan Budaya Negeri Di Atas Awan ? Ya Candi Dieng

Kamu sudah ngaku traveller ? atau biker ? atau bahkan pecinta alam yang suka kedinginan di puncak gunung ? Kalau iya, maka kota kecil Banjarnegara merupakan tempat yang sayang untuk dilewatkan.

Dan jika kamu pernah atau tahu tentang dataran tinggi Dieng, maka itulah salah satu kekayaan alamnya yang sudah terkenal kemana-mana dan bahkan lebih terkenal dari nama Banjarnegara itu sendiri hehe……..

Sekedar informasi saja, Dieng adalah sebuah dataran tinggi yang memiliki luas wilayah yang meliputi 3 kabupaten yaitu Banjarnegara, Batang dan Wonosobo. Namun, sayangnya kebanyakan orang (bahkan di pencarian Google) mengira bahwa Dieng masuk wilayah Kabupaten Wonosobo.

Sebagai contoh nih, objek utama Dieng yang menjadi pusat tujuan wisata pada saat ini adalah Komplek Candi Arjuna. Dan sebagian besar orang mengira bahwa komplek candi Arjuna itu merupakan objek wisata di Wonosobo, padahal sebenarnya komplek candi tersebut merupakan wilayah wisata dieng yang sudah masuk dalam kabupaten Banjarnegara.

Perlu bukti? Pembagian administratif dieng dibagi menjadi dua yaitu dieng wetan kabupaten Wonosobo dengan luas 282 Ha dan dieng kulon kabupaten Banjarnegara dengan luas 338 Ha. Sampai disini paham, bukan?

Dan itu baru komplek Candi Arjuna saja……. belum lainnya…..

By The Way, sudahlah ….. sekarang kita bahas saja Candi candi yang ada di Dieng ya ………

Candi candi di Dieng merupakan sebuah komplek candi yang berasal dari agama Hindu-Siwa, terletak di tanah dataran tinggi Dieng (Dihyang), dengan ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, berukuran panjang 1 km dan lebar 0,8 km. Di sebelah utara terletak Gunung prau dan dari arah gunung ini mengalir Sungai Tulis ke arah selatan, masuk ke dataran tinggi Dieng dan dahulunya membentuk semacam danau yang dikenal dengan nama Bale Kambang. Agar air tidak terlalu penuh terdapat saluran berupa pipa yang disebut Saluran Aswatama yang sebagian ditemukan di dekat Candi Arjuna. Dari catatan Belanda menyebut ada sekitar 400 candi di dieng, namun hanya beberapa candi yang masih berdiri kokoh.

  1. Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna merupakan salah satu candi di dataran tinggi dieng yang sangat terkenal, setiap wisatawan yang datang ke Dieng tak akan melewatkan komplek percandian yang satu ini.

Komplek candi arjuna terletak di tengah kawasan Candi Dieng, terdiri atas 4 candi yang berderet memanjang arah utara-selatan. Candi Arjuna berada di ujung selatan, kemudian berturut-turut ke arah utara adalah Candi Srikandi, Candi Sembadra dan Candi Puntadewa. Tepat di depan Candi Arjuna, terdapat Candi Semar. Keempat candi di komplek ini menghadap ke barat, kecuali Candi Semar yang menghadap ke Candi Arjuna. Kelompok candi ini dapat dikatakan yang paling utuh dibandingkan kelompok candi lainnya di kawasan Dieng.

Selain menawarkan daya tarik utama berupa bangunan candi kuno, di waktu-waktu tertentu objek wisata ini juga menawarkan daya tarik tambahan berupa Dieng Culture Festival yang diselenggarakan setiap tahun pada awal bulan agustus lho! Dieng Culture Festival atau yang biasa disebut DCF ini merupakan tradisi turun temurun pemotongan rambut gimbal.

Untuk masuk ke komplek candi arjuna dan kawah sikidang, kamu hanya merogoh uang sebesar Rp. 15.000 saja per orang. Jadi 1 tiket untuk 2 kawasan wisata, murah meriah sekali bukan? Ditambah udara sejuk dingin khas dieng dan pemandangan alamnya yang eksotis akan memanjakan jiwa kamu.

  1. Candi Gatot Kaca

Tidak seperti kawasan candi prambanan atau candi borobudur, candi gatot kaca hanya terdiri atas satu bangunan candi saja. Candi gatot kaca berlokasikan di barat komplek candi arjuna.

Uniknya, selain menawarkan daya tarik utama berupa wisata sejarah, candi gatot kaca juga menawarkan panorama alam sekitar yang masih asri dan tertata dengan rapi. Walaupun terletak di kawasan pedesaan, fasilitas wisata yang tersedia ini juga tergolong cukup lengkap lho! Dari mulai warung kopi, warung makan, toilet sampai dengan pedagang souvenir khas dieng, cukup lengkap bukan?

  1. Candi Bima

Candi ini memiliki bangunan arsitektur yang mirip seperti candi-candi di India dan terbilang unik karena sedikit berbeda dengan kebanyakan candi lain di Dieng. Menurut informasi yang beredar, candi bima pernah mengalami pemugaran pada tahun 2012. Selepas pemugaran, saat ini bangunan candi ini kembali terlihat bagus dan menarik untuk dikunjungi. Pemugaran ini dilakukan sebagai wujud pelestarian supaya benda-benda peninggalan sejarah tidak hancur atau rusak dimakan zaman.

  1. Candi Dwarawati

Meskipun tidak sepopuler candi arjuna dan gatotkaca ataupun candi bima. Candi yang satu ini berukuran kecil dan lokasinya tersembunyi. Candi yang dulunya dibangun sebagai pemujaan terhadap dewa Syiwa ini sebenarnya memiliki teman seperti candi margasari, candi pandu dan candi parikesit. Namun untuk saat ini, hanya Candi Dwarawati yang masih kokoh berdiri, bangunan candi lainnya sudah hancur.

  1. Candi Semar

Candi ini letaknya berhadapan dengan candi arjuna. Denah dasarnya berbentuk persegi empat membujur arah utara-selatan. Batu candi setinggi sekitar 50 cm, dengan ketinggian sekitar 3m. Tangga menuju pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi terdapat di sisi timur.

  1. Candi Sembadra

Candi sembrada ini memiliki keunikan tersendiri dibanding candi lainnya di dieng. Jika candi lainnya memiliki denah segiempat, candi sembara satu-satunya candi di dieng yang memiliki denah segi delapan. Menurut para ahli atap candi sembadra bukanlah kubus seperti yang ada di internet melainkan ratna yaitu batu kemuncak patah asli yang terpasang sampai sekarang. Atapnya juga terdiri dari batu-batu yang sebagian masih asli.

  1. Candi Srikandi

Candi ini terletak di selatan candi arjuna. Batu candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk kubus. Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu, pada dinding timur menggambarkan Syiwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma. Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak dan atap candi sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya.

  1. Candi Puntadewa

Seperti candi lainnya, ukuran candi puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 m. Atap candi tersusun tinggi ke atas menyerupai meru, berupa tiga tingkatan dimana puncaknya berbentuk ratna menyerupai teratai bertumpuk dua.

  1. Candi Setyaki

Candi setyaki berada tidak jauh sebelah barat komplek candi arjuna hanya berjarak sekitar 200m. Candi setyaki segera direhabilitasi, karena beberapa bagian candi pecah dan tenggelam ke dalam tanah. Proses perbaikannya diperkirakan memakan waktu hingga dua tahun, dimulai dari selasar candi pada tahun pertama.

  1. Candi Kunti

Lokasinya di sebelah Museum Kailasa, lereng bukit pangonan. Atau sebelah barat Komplek Candi Arjuna. Untuk yang satu ini baru ditemukan kaki candi dengan tinggi sekitar 1 meter, serta ratna atau bagian atap candi.

Candi kunti memiliki bentuk persegi panjang seperti palang yunani, bentuk ini tidak seperti candi dieng lainnya. Selain itu, candi kunti ini menghadap ke timur atau menghadap kearah candi-candi yang berada di komplek candi arjuna. Kebalikannya, candi-candi yang berada di komplek candi arjuna ini menghadap ke barat.

Sekedar info, akses jalan menuju ke Dieng sekarang sangat mudah kok. Ada 4 rute yang bisa dilalui yaitu :

  1. Via Banjarnegara – Karangkobar – Pejawaran – Dieng (jalurnya pecinta Kopi)
  2. Via Pekalongan – Kalibening – Wanayasa – Dieng (jalur eksotis puncak gunung)
  3. Via Batang – Sigemplong – Dieng (lagi viral dengan sebutan Tol Atas Awan)
  4. Via Wonosobo (yang sudah mainstream hehehe)

Pemandangan di candi dieng ini cukup apik untuk dimanfaatkan bagi kamu yang suka fotografi. Dengan view yang luar biasa tentunya tidak akan kamu lewatkan begitu saja, bukan? Selain mengambil foto-foto cantik, kamu juga bisa mempelajari sejarah kawasan wisata ini loh!

Nah, bagaimana? Sudah siap untuk berlibur sambil belajar sejarah?

* Penulis : Bella Rista Safera. Foto : ngatmow Editor : @kominfobanjarnegara