Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id
Ritual Pemanggil Hujan Dengan Adu Pukul Pria Dewasa di Ujungan Gumelem

Ritual Pemanggil Hujan Dengan Adu Pukul Pria Dewasa di Ujungan Gumelem

Musim kemarau panjang menjadi awal lahirnya ritual tradisional pemanggil hujan sebagian besar warga di Desa Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Ritual tersebut menjadi tradisi yang turun temurun dari nenek moyang selama ratusan tahun lalu yang masih tetap dijaga kelestariannya sampai sekarang ini.

Berbicara tentang potensi wisata Kabupaten Banjarnegara memang tidak ada habisnya yaa.. banyak sekali yang bisa dijual dan dipromosikan demi melestarikan budaya dan tradisi warga Banjarnegara agar lebih dikenal banyak orang. Satu lagi potensi pariwisata yang digeluti masyarakat Desa Gumelem adalah Ujungan Gumelem ini.

Ujungan Gumelem dikenal sebagai ritual pemanggil hujan, kesannya seperti yang ada di film dan sinetron televisi yaa agak mistis dengernya.. Ujungan Gumelem mempunyai acara festivalnya sendiri, masyarakat Banjarnegara biasa menyebutnya dengan Ujungan Fest (Ujungan Festival) dan merupakan rangkaian acara Festival tahunan di Kabupaten Banjarnegara. Para pemuda milenial yang ambisius untuk menjual potensi pariwisatanya, mengemas budaya ujungan menjadi tradisi yang menarik dengan tanpa meninggalkan nilai estetika budaya ujungan tersebut. Dikemasnya secara apik ujungan kedalam suatu event festival mewakili kesadaran masyarakat dalam upaya pelestarian budaya ujungan agar tidak tergerus oleh zaman.

Tradisi Ujungan Gumelem dikemas dalam sebuah atraksi seni budaya yang menurut sebagian orang yang belum pernah melihatnya mungkin akan berkata kalau festival ini “gila” , pasalnya para pemain atraksi ini diharuskan untuk memukul lawan mainnya dengan sebilah batang rotan keras, yang katanya guna mempercepat datangnya hujan para pemain Ujungan ini harus memperbanyak pukulan pada bagian kaki kepada lawan hingga terluka dan berdarah… hmmm ngeri banget sob..  pemain yang berani ikut bermain akan dipersenjatai dengan batang rotannya dan diharuskan mengganti kostum dan memakai perlengkapan untuk keamanan dirinya. Maka dari itu tradisi ini hanya boleh diikuti oleh pria dewasa yang mempunyai nyali besar sebagai seorang petarung, berani coba? Ritual pemanggil hujan dilakukan sebab masa ini (kemarau) petani sangat membutuhkan air untuk mengairi sawahnya, kalau kekeringan otomatis petani merugi dan gagal panen karena sawah kekurangan air dan otomatis juga kalian tidak bisa makan nasi karena beras langka. Hayo looo…

Banyak juga kolaborasi pelengkap acara ritual dengan menggabungkan antara seni musik, tari dan bela diri seperti kuda lumping, kenthongan dan lainnya yang tentu saja selalu menjunjung tinggi sportivitas antar pemain. Jadi jangan beranggapan kalau event ini berjalan dengan sembrono alias ngawur yah, ada wasit yang akan mengatur jalannya ritual ini sob…… jadi tetap pada koridornya yaa..

Event ini menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan lhoo, setiap pelaksanaan festival Ujungan tidak pernah sepi pengunjung, animo masyarakat selalu meluber mungkin karena ngeri yaa jadi banyak yang penasaran hehee.. untuk tahun ini rasa-rasanya Festival Ujungan Gumelem masih menjadi khayalan yaa, sebab adanya pandemi Covid 19 seperti sekarang ini membuat banyak sektor pariwisata budaya termasuknya Festival Ujungan Gumelem menjadi mandeg.

Sedih yaa ☹ …………………. Mari Berdo’a yuk semoga pandemi ini segera berakhir dan event ini akan kembali dilaksanakan supaya sobat mbolang bisa wisata edukasi sekalian eksplore Banjarnegara tercinta …….

Salam Mbolang.. ………

 

* Penulis : Dinda Zhalia Kristi Foto : Ajru Ramadhan, Bowo_capung Editor : @kominfobanjarnegara

Festival Mandi Lumpur Kalilunjar

Festival Mandi Lumpur Kalilunjar

Pernah membayangkan badan kita penuh lumpur dengan perasaan riang gembira dan syahdu ?

atau pernah nggak merasakan sensasi mandi lumpur rame rame bareng orang satu desa ?

Belum ?

Sama. Lagian kalau dipikir pikir ngapain juga ? dan mana ada tempat begituan ?

eits jangan salah pikir dulu bos………. maksudnya tempat yang ngadain mandi lumpur rame rame itu……… bukan yang anu……… hehehe ………

 

Nah perlu dan wajib diketahui kalo di Banjarnegara ada tempat yang menggelar sebuah acara Mandi Lumpur bareng bareng sama orang sekampung lho …..

 

Lokasi tepatnya yaitu di Desa Kalilunjar Kecamatan Banjarmangu. Kalo dari alun alun kota sekitar 20-30 menit perjalanan ke arah utara mengikuti jalur Jalan Provinsi dari Banjarnegara menuju ke Dieng via Karangkobar. Nggak jauh sih, tapi untuk yang mau menuju ke lokasi diharapkan agak lebih hati hati karena banyak sekali tikungan “mesra”nya. Maklum jalan pegunungan dimana kita harus mendaki gunung lewati lembah macam film kartun di tv  itu hihihi……….

 

Namanya yang unik, langka dan tidak umum di negeri kita membuat penasaran level dewa bagi saya. Dalam kepala saya, bayangan awalnya sih akan seperti Festival Lumpur Boryeong  yang digelar di Pantai Daecheon (pantai terbesar di pesisir barat Korea), atau Festival Holy di Islamabad India yang lumpurnya bercampur warna warni indah sekali.

 

Tapi, ternyata kali ini tidak sama sodara sodara.

Sangat berbeda. Ada filosofi yang sangat mendalam dan tujuan yang sangat mulia dibalik pelaksanaannya.

 

Jadi begini, Festival Mandi Lumpur di desa Kalilunjar merupakan kegiatan yang selalu digelar dalam rangka peringatan Hari Bumi setiap tahun. Menurut Kepala Desa setempat, Slamet Raharjo, alasan menggunakan lumpur adalah berawal dari filosofi bahwa lumpur adalah unsur alam yang selalu bersinggungan dengan manusia terutama petani di desa mereka. Dan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kecintaan terhadap alam itulah acara ini digelar secara besar besaran.

 

Sebenarnya, proses pelaksanaan festival ini cukup sederhana lho sodara sodara. Pada hari H, paginya  warga desa kalilunjar berbondong bondong menuju ke lapangan kecil di bawah Gunung Lawe (sebuah bukit batu utuh yang tinggi menjulang dengan pepohonan tumbuh subur di sekelilingnya) dimana terdapat sebuah kolam berdiameter sekitar 20 meter yang berbentuk lingkaran. Namun untuk peringatan Hari Bumi kali ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi bentuk hati dan dipersiapkan menjadi penuh lumpur.

 

Sekitar jam 9 pagi, Kades Kalilunjar, berdiri di atas mobil bak terbuka yang sudah diparkir di pinggir tebing, tepat di atas kolam, untuk memberikan sambutan dan memulai acara. Dalam orasinya, dia mengingatkan warga masyarakat bahwa kegiatan ini murni sebagai kegiatan budaya dan jangan dikaitkan dengan hal hal yang berbau syirik. Selain itu dia menekankan bahwa inti dari kegiatan festival adalah menggeliatkan kembali kecintaan masyarakat terhadap bumi dan isinya serta meningkatkan  persatuan, kesatuan, kerukunan dan rasa kekeluargaan dalam masyarakat Desa Kalilunjar.

 

Setelah diadakan doa bersama, Slamet memberikan aba-aba agar warga memasuki kolam lumpur. Dengan komando dari kepala desa itu, warga secara serentak masuk dan mengambil posisi seperti bersujud di dalam lumpur sebagai perwujudan wujud rasa syukur mereka sambil saling bergandengan tangan. Hal ini konon katanya adalah sebagai bentuk perwujudan kerukunan, persatuan dan kesuatuan antar warga seperti apa yang dikatakan pak kades di dalam sambutannya tadi.

 

Syahdu

itulah yang terjadi.

entah mengapa semua orang yang hadir mendadak diam, terlarut dalam lantunan puji pujian dari pengeras suara..

 

Tiba tiba, seorang sesepuh desa yang berada di atas mobil bersama pak kades melemparkan segenggam uang koin ketengah kerumunan warga di dalam kolam lumpur itu.

 

Dan…….

ambyar sodara sodara……..

Sekitar 500 orang yang ada disitu langsung berlompatan dan saling berebut koin. Sambil tertawa bahagia mereka sudah tidak memperdulikan lagi bila seluruh tubuhnya penuh dengan lumpur (dan keringat tentunya hehehe….). Laki laki dan perempuan dari berbagai usia ikut dalam keriuhan suasana.

Mereka rela harus jatuh bangun dan mandi lumpur berdesakan hanya untuk mendapatkan uang koin tersebut. Sementara dari atas mobil Kepala Desa dan beberapa orang Sesepuh desa bergantian menebar kepingan kepingan uang koin itu sampai habis tak bersisa.

 

Menariknya, ternyata diantara uang koin yang diperebutkan warga ternyata ada beberapa yang bertanda khusus untuk mendapatkan door prize yang sudah dipersiapkan desa seperti TV, Rice Cooker dan setrika listrik.

Menarik kan ?

 

Seru ……….

 

Oya,  uang koin yang diperebutkan warga dalam kegiatan ini merupakan uang yang telah didoakan oleh sesepuh desa. Meski nominalnya tidak banyak, namun warga percaya bahwa uang koin tersebut bisa mendatangkan berkah lho…….

 

Selesai berlumpur ria, selanjutnya ratusan warga tersebut beranjak dari kolam untuk berkumpul dan membentuk sebuah barisan panjang di jalan raya dengan masing masing membawa beberapa batang bibit pohon. Ada 3 jenis pohon yang dibawa yaitu pohon Mahoni, pohon durian dan pucuk merah.

 

Salah satu tokoh pemuda desa Kalilunjar, Jojo, mengatakan bahwa Pohon Mahoni dipilih karena merupakan jenis kayu keras yang bisa menjadi investasi jangka panjang masyarakat, juga digunakan sebagai tanaman konservasi mengingat bahwa Desa Kalilunjar memiliki kontur tanah berbukit dan berada di tebing yang secara otomatis akan rawan longsor, sementara di bagian bawah desa membentang Sungai Merawu yang terus mengikis bantaran sungai yang dilaluinya. Ngeri………….

 

Untuk bibit Pohon Durian, dia menuturkan bahwa jenis pohon ini dipilih karena selain bisa digunakan sebagai pohon konservasi juga memiliki nilai ekonomis tinggi mengingat bahwa buah durian sangat digemari masyarakat Kalilunjar dan bahkan Banjarnegara. Terakhir, Pohon pucuk merah yang notabene adalah tanaman hias juga dipilih oleh masyarakat. Tujuannya tidak lain adalah untuk ditanam sebagai tanaman penghias bahu jalan di sepanjang wilayah desa Kalilunjar. Selain indah, juga sebagai salah satu langkah awal program Desa Seribu Bunga yang menjadi cita cita ibu ibu PKK desa.

 

Barisan itu kemudian berjalan kaki menuju kantor balai desa yang berjarak sekitar 2 kilometer. Sepanjang perjalanan dilakukan penanaman pohon pucuk merah tersebut pada tempat tempat yang sudah ditentukan. Hebatnya lagi, sambil jalan mereka juga secara sukarela mengambili sampah sampah yang ditemukan dan mengumpulkannya untuk kemudian dibakar setelah sampai di Balai desa.

Selanjutnya mereka bersama sama melakukan gerakan penanaman pohon mahoni dan durian yang sudah dipersiapkan di sepanjang bantaran sungai Merawu yang masuk wilayah desa Kalilunjar.

 

Meskipun melelahkan dan memakan waktu dari pagi hingga sore hari, warga masyarakat mengaku merasa sangat puas. Bahkan pada umumnya mereka mengharapkan bahwa kegiatan semacam ini harus dilestarikan dan dijaga eksistensinya, karena selain sebagai hiburan, juga memiliki tujuan yang sangat mulia dan berjangka panjang.

 

” Ini adalah wujud nyata kepedulian kami terhadap bumi, karena kami sebagai petani harus mencintai dan merawat bumi sepenuh hati. Begitu juga seharusnya dengan anda semua ”  tutup Slamet Raharjo