Kirim Tulisanmu Tentang Banjarnegara Ke : visit@banjarnegarakab.go.id
Gunung Lumbung, mendaki semesta kecil yang recommended banget

Gunung Lumbung, mendaki semesta kecil yang recommended banget

Hallo kawan-kawan petualang, pernah dengar Gunung Lumbung?

Namanya memang tak sepopuler tetangganya Gunung Sikunir, Gunung Prau, dan Gunung Bismo. Namun jangan salah, Gunung Lumbung memiliki trek yang cukup ringan dan hanya membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit untuk menuju puncaknya.

Cukup mengikuti jalan setapak sedikit nanjak yang sering dilalui para petani sekitar, jalan menuju puncaknya pun tidak susah, cuma agak licin kena air hujan. Pendakian menuju puncak Gunung Lumbung juga dapat dinikmati oleh pendaki pemula, bahkan oleh sebuah keluarga secara bersama sama.

Lokasi

Dimana lokasi Wisata Gunung Lumbung Banjarnegara Jawa Tengah? Lokasi Wisata Gunung Lumbung ini terletak di desa Darmayasa, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.

Tetapi jika kamu masih bingung di mana lokasi atau letak Gunung Lumbung untuk lebih  mudahnya, kamu juga bisa mendapatkan petunjuk arah di Google Maps dengan kata kunci Gunung Lumbung, Banjarnegara, Jawa Tengah. Dari kota Banjarnegara, Gunung Lumbung bisa ditempuh 1 jam perjalanan dengan kendaraan sepeda motor atau mobil.

Daya Tarik

Di puncak gunung lumbung, pengunjung akan menikmati suasana alam pegunungan yang sejuk dan segar serta jauh dari hingar bingar kota. Jika diukur menurut ketinggian memang gunung ini tidak sampai 600 meter diatas permukaan laut namun warga sekitar tetap menganggapnya sebagai gunung mungkin karena pengaruh kuno secara turun-temurun.

Pada pagi hari, pengunjung disuguhkan pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang bisa terlihat jelas dari puncak. Bahkan saat pagi hari, matahari akan muncul di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Udara yang sejuk dan segar, serta nuansa alam yang masih asli, selain itu jaringan internet di puncak Gunung Lumbung dan di jalur pendakian masih lancar, jadi kita bisa tetap bersosmed di gunung.

Dari atas gunung, kamu bisa menyaksikan lanskap kawasan Banjarnegara yang hijau sejauh mata memandang. Lanskap hijau yang indah ini tentu membuat mata dan perasaan hati menjadi tentram dan nyaman. Masalah hidup seolah lenyap seketika dari pikiran. Jika berharap mendapat ketenangan yang berpadu dengan nyanyian alam, maka hal itu dapat ditemukan di Gunung Lumbung.

Gunung Lumbung Banjarnegara Jawa Tengah memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika kamu berada di kota Banjarnegara namun tidak mengunjungi wisata alam yang mempunyai keindahan tiada duanya tersebut. Sebelum perjalanan turun, jangan lupa mencari spot foto dengan latar pohon pinus.

Saran dan Tips

Saran dan tips sebelum menuju ke tempat Gunung Lumbung Banjarnegara Jawa Tengah, kamu perlu mempersiapkan keperluan yang akan butuhkan. Jika kamu mau camping atau berkemah jangan lupa bawa perlengkapan outdoor. Siapkan fisik dan kendaraan supaya liburan kamu berjalan dengan lancar. Jaga kondisi diri sendiri dan selalu berhati-hati. Selamat berpetualangan, kawan!

Gunung lumbung masih sangat asri, jadi kapan nih mau kesini? Jangan lupa ajak kawan sepetualangmu, ya!

 

* Penulis : Bella Rista Safera. Foto : imamurrozaq Editor : @kominfobanjarnegara

Curug Panaraban, Si Cantik Yang Perlu Dijamah Lagi

Curug Panaraban, Si Cantik Yang Perlu Dijamah Lagi

Kabupaten Banjarnegara yang notabene adalah kota kecil dengan sebagian besar wilayahnya terdiri dari daerah pegunungan, tidak dipungkiri lagi punya sejuta kekayaan alam dan potensi wisata yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut lho kisanak….. suwer ……

Saking banyaknya, sampai sebagian besar potensi itu bahkan belum terpetakan oleh pemerintah lho. Kalaupun sudah ya paling hanya sebatas teman saja….eh…… maksudnya sebatas tahu dan “pernah” dikunjungi pejabat. Sudah gitu tok…….

Mau bukti ? Olrait ……..
Salah satu contohnya adalah Curug Sipawon yang secara geografis berada di wilayah dusun Pagondangan, Desa Wanareja  Kecamatan Wanayasa dan salah satu bagian dari Sungai Panaraban yang jadi batas wilayah Kecamatan Pejawaran dengan Kecamatan Wanayasa (ini yang menjadikannya disebut juga sebagai Curug Panaraban). Sudahkah sampai saat ini populer di kalangan para traveler luar kota atau minimal masuk dalam peta wisata ?
Agak sangsi saya …….

Beberapa waktu yang lalu saya beserta Tim Njawar KPFB Banjarnegara sengaja mbolang kesana. Disamping memang dekat dengan sawah area kerja saya, juga rasa penasaran karena mendengar bahwa di curug ini masih banyak hewan liar semecam monyet, kera, kethek dan sejenisnya. Juga babi hutan dan celeng yang sering terlihat di sekitarnya. Maka dari itu saya ambil kesimpulan bahwa curug ini masih perawan…… virgin……. #maraipingin #ehh

Singkat cerita, saya dan mas Bowo Capung serta mas Agussalam Azzet  mencari waktu yang tepat alias longgar dan layak untuk mbolos ngarit demi sekedar piknik sebentar ke Air Terjun alias curug yang dimaksud. Tujuannya ? Jelas…. pingin membuktikan apa yang orang orang katakan dan ceritakan …… jyah……

Dan perjalananpun dimulai …..

Pertama kami berkumpul di Kantor Kecamatan Pejawaran untuk kemudian berkendara kurang lebih 10 menit menuju Desa Sarwodadi. Jangan takut jalan berlobang (seperti isyu yang beredar selama ini) karena jalannya alus mulus layaknya paha mbak Luna lho pemirsa ….. suwer……Selanjutnya dari pusat desa, kami ditunjukkan arah ke curug dimaksud oleh seorang perangkat desa melalui jalan tlasah alias jalan gemrunjal alias lagi jalan yang berupa susunan batu yang ditata sedemikian rupa sehingga lumayan bisa dilewati kendaraan bermotor.

Tidak lebih dari 1,5 km dengan pemandangan hijau dari daun tetumbuhan di kebon yang membentans sepanjang perjalanan kami akhirnya bisa diselesaikan dengan sempurna. Kuncinya, motor dalam keadaan prima, roda depan belakang cukup angin dan bensin penuh !!!

Sesampainya di ujung jalan tlasah, jalan kemudian berganti rupa dan bentuk. Bukan jadi jalan bayi melainkan jalan setapak yang hampir dipenuhi rumput ilalang setinggi dada. Butuh keberanian dan nyali sebenarnya. namun kata pepatah “ Orang pintar kalah dengan orang yang beruntung, dan orang beruntung akan kalah dengan orang yang nekad ” hehehe…….  kami lanjut terus…. menyibakkan kelambu itu eh…..menyibakkan rerumputan demi rerumputan sepanjang kurang lebih 500 meter (10 menit perjalanan RATA) berikutnya hingga sampai pada tujuan akhir yaitu Curug Sipawon.

Subhanalloh ……
Sangat indah sodara sodara…….
Air terjun setinggi kurang lebih 25 meter ini memiliki debit air yang cukup besar dengan bebatuan yang sangat mendukung untuk kegiatan foto pribadi alias selfi. Area pendaratan air pun cukup menarik dan luas sehingga memungkinkan untuk berenang dan ciblon disana. Namun ada hal yang perlu diperhatikan yaitu pada tepat di bagian bawah air terjun terdapat lubang air yang cukup dalam berbentuk seperti pawon sehingga akan sangat berbahaya apabila terseret air ke dalam lubang tersebut apalagi dengan debit air yang sekarang ini lagi besar besarnya ……….

Airnya jernih sejernih matamu malam itu #ehh …..
sumpah airnya jernih dan adem, sangat cocok bagi manusia manusia dengan pikiran super berat untuk menyepi dan menenangkan diri. Adem, sepi, damai, terpencil pula……… recommended kalau mau bunuh diri  #ehh

Sebenarnya di balik bukit di sebelah curug ini, masih ada lain yang konon lebih indah dan menantang. Namanya Curug Tumpuk Telu….. dari namanya sudah bisa dibayangkan bahwa di curug ini akan ada 3 lapis (mungkin semacam rumah lapis yang lagi tren di ibu kota hehehe…) air terjun nan indah yang sangat menggoda untuk dijamah……. namun karena arus sungai terlalu deras dan tidak ada jalan lain ke sana selain lewat tengah kali …… yakin…….

Dan rasa penasaran ini akhirnya harus kami tahan (semoga tidak menjadi penyakit seperti nahan ngeden) dengan sebuah komitmen bahwa ketika cuaca sudah memungkinkan kami pasti akan kesana lagi ……… PASTI……

Ikut ????

*Tulisan asli bisa ditemukan di www.zisbox.net diposting dengan sedikit penyesuaian.

Ada Cukur Rambut Gembel di Festival Rawapusung Beji

Ada Cukur Rambut Gembel di Festival Rawapusung Beji

Haru…….
Sepertinya hanya itu satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya (dan mungkin juga teman teman yang lain) rasakan  ketika puncak Festival Rawapusung Beji berlangsung. Cukuran gembel alias potong rambut gembel…..

Kok sama kaya yang di Dieng Culture Festival ?
Nggak men….. beda…… cukuran rambut gembel disini beda…… di Beji ini cukurannya penuh dengan aura semangat masyarakat yang berkomitmen menjaga tradisi dan budaya mereka tanpa embel embel sejumlah rupiah……..dan itu semua bisa berjalan dengan lancar dan syahdu lho……… halah……

Meskipun Festiwal Rawapusung ini sebenernya merupakan acara tahunan desa yang lokasinya mungkin nggak terbayangkan sebelumnya (karena lumayan jauh lho dari pusat kota Banjarnegara), tapisumpah men, Festival selama dua hari yaitu Sabtu-Minggu, 13-14 Oktober 2018 kemarin berhasil memukau semua yang hadir dan ikut dalam hingar bingarnya. Termasuk saya dan teman teman tukang jepret. Rangkaian kegiatan Festival ini tampil luar biasa dengan suguhan pesona budaya khas pedesaan daerah pegunungan. Dan dengan dibalut tekad yang luar biasa dari segenap panitia dan warga masyarakatnya, Festival ini dapat berjalan dengan 100% sukses…….

“Senang sekali mas ada acara besar seperti ini. Selama hidup saya baru kali ini Beji ramainya mengalahkan lebaran “ tutur salah seorang warga, Miswan

Penasaran ? Harus dong …….
Ceritanya begini gaess …….

Rangkaian acara Festival ini dimulai pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 dengan acara pengambilan air di Rawapusung, yaitu sebuah mata air yang menurut kepercayaan warga merupakan mata air. Pengambilan air ini dilakukan oleh sesepuh desa dengan diiringi oleh segenap warga berpakaian adat jawa dan menggunakan kendi tanah liat…… ente jadi berfantasi kalo yang bawa teteh teteh pake kemben trus jalan beriringan lewat pinggiran sungai dan tanaman yang hijau ?? ……
kayaknya eksotis pisan kan ? hihihihi ………………

Air yang diambil tadi kemudian dicampurkan dengan air pesusen, yaitu air cucian beras yang akan digunakan untuk membuat bucu/nasi tumpeng. Air yang sudah dicampur tersebut kemudian akan diletakkan disamping Dalang Ruwat yang sedang melakonkan wayang ruwat yang berisi wejangan dan nasehat nasehat hidup kepada masyarakat. Setelah wayang ruwat berakhir, air kidungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat yang datang secara berbondong bondong dengan membawa “bumbung” atau tempat air lainnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan pementasan wayang yang berisi petuah, nasihat, dan sebagainya yang membentuk karakter positif pada diri masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak jarang pementasan wayang ini juga berisi legenda dan cerita mengenai tokoh agama, nabi dan rosul maupun para wali songo. FYI, Wayang ruwat ini biasanya dimulai jam 8 pagi, ada ataupun tidak penontonnya….. Sadis……..

Festival pada hari pertama dilanjutkan dengan pementasan Kesenian Jepin bro……. Masih ingat Jepin kan ? Jepin yang dimainkan warga desa Beji ini juga sangat menarik lho, sebab mereka juga bermain menyembur api, kemudian juga mengalami trans alias mendem, juga ramai sekali oleh penonton baik orang tua maupun anak anaknya. Terakhir, rangkaian acara festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Jono plus para biduan dan sindennya yang tentu saja menggugah selera…. eh mengobati rasa kantuk di mata hehehe ……………

Pada hari kedua, pagelaran yang disajikan semakin beragam dan menarik. Dimulai dengan “dhahar sarap sesarengan” dimana ada 23 bucu disajikan dan kemudian dimakan secara bersama sama oleh warga dan tamu undangan (termasuk kita kita cuy …. kenyang pokoknya), pementasan kesenian dan tari oleh ibu ibu PKK seluruh RT se desa beji, pementasan Kuda lumping, Jepin, Cimoi dan Pementasan grup organ tunggal CIPTA NADA yang seluruh anggotanya berasal dari desa beji.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara yang dinantikan yaitu prosesi pemotongan rambut gembel pun dimulai. 3 orang anak berambut gembel dari beji dan sekitarnya diarak menggunakan tandu. Dengan diikuti oleh segenap warga masyarakat dan pengunjung yang hadir, mereka berarak menuju ke lokasi pencukuran yaitu embung Rawapusung. Pencukuran sendiri dilakukan oleh sesepuh desa, tokoh agama dan camat pejawaran, Drs. Aswan. Pada prosesi ini segenap warga masyarakat mengikuti rangkaiannya dengan khikmad. Mulai dari penjamasan, pemotongan, larungan dan doa bersama secara Islam. Suasana haru yang menyeruak mengakibatkan banyak yang berlinang air mata. Setelah selesai, pada kesempatan itu dihadirkan pula 4 orang anak berambut gembel yang rencananya akan diruwat tahun depan.

Sekedar informasi, Festival Rawapusung Beji tahun 2018 adalah yang pertama kalinya dilaksanakan secara besar besaran. Sebelumnya kegiatan ini masih berupa ruwat desa biasa yang rutin dilakukan setiap tahun. Kepala desa Beji, Sarman, mengatakan bahwa masyarakatnya sangat mengharapkan agar Festival ini bisa digelar setiap tahun dengan peningkatan kualitas dan kreatifitas acara.

“ insyaalloh kami berkomitmen untuk melanjutkan acara ini agar semakin besar dan menjadikannya salah satu event budaya berskala nasional mas. Mohon doa restunya” tuturnya berapi api.

Satu hal yang unik dari penyelenggaraan Festival ini, penduduk menyediakan hunian sementara (home stay) bagi para tamu seperti wartawan, fotografer, forkompincam, budayawan dan pengunjung lainnya secara gratis. Tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ada beberapa orang tamu yang kemudian diberi oleh oleh berupa kentang dalam jumlah yang cukup banyak. Menarik bukan ?

So, catat dan segera diagendakan untuk kesini tahun depan ya gaesss ……….

 

*Tulisan asli bisa dilihat di www.zisbox.net

Not recommended waterfall, Curug Tempuk Telu

Not recommended waterfall, Curug Tempuk Telu

Not recommended ?? why ??
bwahahahaha…… yes it’s true sodara sodara. Sangat sangat tidak dianjurkan untuk didatangi oleh kalian kalian yang cemen, nggak punya jiwa petualang, ga suka mancing, manja, takut jatuh, nggak punya nyali untuk menaklukkan medan berat, takut basah dan ga bisa move on dari mantan ……ehhh…… Sebab untuk sampai ke air terjun super indah ini harus berjuang sangat keras menaklukkan rute yang ekstrim dan penuh liku seperti hidupmu…..eh……
Penasaran ? Jangan …….
yakin deh…….penasaran itu berat, kamu ga akan kuat…… cukup aku aja…… hehehe……
Ceritanya begini kisanak, beberapa waktu yang lalu saya dan teman teman berkunjung ke Curug Sipawon di Desa Sarwodadi Kecamatan Pejawaran,  kami mendapatkan informasi bahwa tidak jauh dari Curug itu ada Curug lain yang konon katanya jauh lebih indah dan menantang. Curug Tumpuk Telu atau Curug Tempuk Telu namanya. Nah dari situlah muncul rasa penasaran yang menggebu di hati sanubari kami semenggebu penasarannya arwah vampir vampir di film mandarin yang ga ada hentinya melompat sambil menyeringai menunjukkan taringnya yang kuning itu hehehe…..

Olrait…….Sebagai informasi saja, Curug Tempuk Telu (sering disebut juga Curug Tumpuk Telu) ini sesuai namanya adalah barisan dari beberapa air terjun (namun hanya 3 yang dominan dan debit airnya paling besar). Titik jatuhnya air ketiga air terjun itu menjadi satu dan kemudian menjadi ujung sungai yang mengalir di tengah tengah tebing batu……… mirip seperti ujung sungai di film film petualangan Hollywood pemirsah ….. indah, mempesona, bikin mulut menganga dan pastinya akan memanjakan kita yang  suka banget berteman sama joran alias mancing …….. sebab disini surganya ikan man !!! …….suwer deh ……

Singkat cerita, setelah mengatur waktu, menyusun rencana mlipir sambil menunggu curah hujan mereda, akhirnya kamipun merealisasikannya kemarin. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah menghubungi  “juru kunci” yang tidak lain dan tidak bukan adalah penduduk sekitar (dalam hal ini perangkat desa Sarwodadi – yang ternyata sebagian besar adalah tukang jaring ikan jagoan di sungai Panaraban) untuk meminta bantuan mereka sebagai penunjuk jalan. Hal ini penting mengingat bahwa jalur ke Curug Tempuk Telu dikabarkan sangat ekstrim dan katanya berbahaya.
foto by Agussalam

Setelah melakukan perjalanan sampai ke pinggiran Sungai Panaraban, kami melanjutkan perjalanan dengan berbasah basah ria. Dengan ditemani 3 orang perangkat desa Sarwodadi (Pak Toyo, Pak Tomo dan Pak Tadin), kami memulainya dengan menyeberang sungai Panaraban dengan debit air yang lumayan deras (pada waktu itu), kemudian berjalan merunduk melewati akar dan tumbuhan liar dengan trek yang cukup membuat mandi keringat, kemudian menyeberang sungai lagi dengan pola zig zag (mengikuti bagian sungai yang dangkal), menerobos tumbuhan liar dan rumput beracun (yang gatalnya gak hilang sampai sekarang), serta yang paling ekstrim adalah merambat di tebing batu di sepanjang aliran sungai itu……. nah……..

Sebenarnya jarak Curug ini dari Curug Sipawon tidak begitu jauh sih, kurang lebih hanya 300 meter saja dan hanya dibatasi oleh sebuah bukit setinggi lebih dari 50 meter dengan kemiringan yang cukup curam. Tapi dengan rute yang ternyata sangat masyaalloh itu, kami (terutama saya) yang tidak biasa blangsakan disitu, harus menempuhnya dalam waktu hampir 40 menit (belum termasuk istirahat sambil minum kopi dan foto foto….. ) penuh dengan perjuangan yang cukup berat (halah……) hingga akhirnya kami berhasil mendekati lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
What ?
Hanya mendekati ? belum sampai lokasi dong ….
Yes. Belum sampai lokasi dibawah air terjunnya langsung. Sebab pada waktu itu cuaca mendadak mendung, kabut hitam datang dan arus air bertambah cukup deras. Dengan banyak pertimbangan akhirnya kami balik kanan dan mengikhlaskan hati untuk tidak melanjutkan langkah yang tinggal 50 meter itu. Dan berdasarkan info dari sang juru kunci hehehe ….. 50 meter terakhir itu adalah yang paling sulit…… dan itulah yang kami jadikan bahan menghibur diri hehehehe……
Jika ditanya apa yang saya rasakan setelah blangsakan itu ?
Sangat berkesan sodara sodara……. apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa sesampainya di rumah, kartu memori saya tidak terbaca alias error dan setelah di recovery foto yang terselamatkan bukan foto aslinya yang berukuran besar melainkan copyannya saja yang berukuran sangat kecil……. ambyarrrrr…………….
Tapi tidak apa apa kisanak, salah satu tujuan utama saya telah tercapai. Apa itu ??
Survey jalan dan lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
Kenapa ? sebab berdasarkan informasi yang bisa dipercaya, lokasi ini di tahun 2019 akan mendapatkan dana pengelolaan daerah wisata dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Pariwisatanya. So, perlu dilakukan survey dalam perencanaan pembangunannya kan ? Mulai dari perencanaan tempat parkir, jalur wisata, gazebo, jalan setapak dan bahkan sampai rencana mengikis tebing batu untuk membuat minimal jalan setapak menuju Curug Tempuk Telu ini……..(yang kalau dalam bayangan saya sih seperti jalan di Taman Nasional Gunung Tianmen, Zhangjiajie, di barat laut Provinsi Hunan, Cina itu)
Harapan kedepannya sih ga muluk, semoga nantinya setelah jadi daerah wisata, pendapatan desa dan masyarakat bisa meningkat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitarnya serta menjadikan orang orang seperti saya yang suka mlipir untuk berburu foto jadi punya lokasi alternatif lokasi motret  di wilayah Banjarnegara tercinta ini……. hehehe………..
Dan yang jelas besok pas sudah musim kemarau dan debit airnya menurun, saya insyaalloh PASTI AKAN KESITU LAGI ……… ikut ???
and the last question, anda berani kesana saat ini ?
hahhaha……………..
*Tulisan asli bisa ditemukan di www.zisbox.net